Sistem kapitalisme menjadikan uang sebagai alat tukar
sekaligus komoditas yang dapat diperjualbelikan
___________________________
Penulis Harisagustinawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah pada 4 Juni 2026 ke level Rp18.000 per dollar AS (Kompas). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami depresiasi dan fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir. Alhasil, berdampak pada naiknya harga-harga bahan baku dan energi. Kondisi tersebut membuat perekonomian di Indonesia makin mengkhawatirkan.
Indonesia bergantung pada impor yang mencapai sekitar 75%. Ketergantungan ini mencakup sektor pangan, elektronik, industri kimia, tekstil, minyak dan gas, obat-obatan serta kendaraan pribadi. Nilai tukar rupiah yang makin melemah menyebabkan Indonesia harus mengeluarkan biaya ekstra karena transaksi internasional menggunakan dolar.
Akibatnya, harga bahan baku otomatis naik. Sehingga memicu kenaikan barang dan jasa terutama kebutuhan pokok dan bahan bakar. Masyarakat akan merasakan langsung dampaknya dengan naiknya biaya hidup yang makin mahal. Kelas menegah akan rentan karena harga kebutuhan makin naik sementara pendapatan tidak naik.
Ironisnya, pemerintah justru mengatakan masyarakat kecil terutama di desa, tidak terlalu terdampak oleh fluktuasi nilai tukar dolar. Seolah tanpa nalar, Presiden Prabowo menanggapi dengan pernyataan “rakyat di desa tidak pakai dolar”. Pernyataan tersebut tentu menimbulkan kegaduhan dan menjadi luka di tengah masyarakat. Pemimpin yang diharapkan mampu mencari solusi justru menganggap sepele realita kondisi masyarakat saat ini.
Tanggapan yang mengatakan rakyat di pedesaan tidak menggunakan dolar adalah bukti minim empati dan komunikasi yang buruk dari pejabat publik. Hidup rakyat makin sulit karena tekanan ekonomi yang makin sulit. Alhasil, mendorong sebagian masyarakat menggunakan pinjaman online (pinjol). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pinjaman online mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026, dengan pertumbuhan sebesar 25,52% secara tahunan (year on year/YoY).
Rupiah Melemah, Salah Siapa?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah makin melemah. Pertama, konstalasi politik internasional, perang AS-Iran yang memengaruhi stabilitas ekonomi global sehingga memicu pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Iran memiliki posisi strategis pada jalur perdagangan energi (minyak) global karena menjadi pemegang kendali atas selat Hormus. Ketika pasokan energi terganggu, maka akan timbul kekhawatiran pasar internasional akibat kenaikan harga minyak dunia yang signifikan.
Dampak dari kenaikan harga minyak ini kemudian memicu tekanan inflasi global dan meningkatkan biaya produksi. Negara-negara pengimpor energi dan bahan baku seperti Indonesia akan terdampak pada buruknya neraca perdagangan. Bagi investor internasional akan mendorong mereka mengalihkan aset ke dolar dan obligasi di negara yang dianggap lebih aman. Fenomena ini menyebabkan meningkatnya permintaan dolar AS dan otomatis menguatkan nilai tukar secara global.
Kedua, kondisi geopolitik yang tidak pasti seharusnya membuat pemerintah mencari cara agar masyarakat tidak terdampak signifikan. Makin panjang rantai pasok distribusi kebutuhan pokok, maka harga kebutuhan otomatis akan naik. Masyarakat di pelosok atau pedesaan harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk mendapatkan kebutuhan tersebut. Masyarakat perkotaan akan memilih menahan belanja karena pendapatan yang tetap. Permintaan barang dari pedesaan seperti hasil pertanian ataupun produk UMKM menjadi menurun. Artinya masyarakat pedesaan justru terdampak ketika dolar menguat.
Permasalahan bukan terletak pada individu memegang dolar ataupun tidak. Akan tetapi, pengaruh dari transaksi barang dan jasa yang menggunakan dolar. Belum ada solusi ataupun langkah strategis yang dilakukan negara ketika harga kebutuhan naik. Negara tidak melihat akar permasalahan penyebab depresiasi rupiah. Sehingga solusi yang dilakukan justru menimbulkan efek lain.
Pada akhirnya, masyarakat menanggung sendiri beban hidup akibat ketiadaan peran negara. Melemahnya rupiah terhadap dolar juga berdampak pada hutang negara yang otomatis makin melambung.
Sistem Ekonomi Kapitalisme Penyebabnya
Melemahnya nilai tukar rupiah adalah akibat dari sistem ekonomi kapitalisme. Penggunaan fiat money (uang kertas) sebagai alat pembayaran sangat rentan terhadap inflasi sehingga nilainya akan terus turun. Hal ini karena fiat money tidak mengharuskan adanya cadangan fisik, seperti emas dan perak.
Sistem kapitalisme menjadikan uang sebagai alat tukar sekaligus komoditas yang dapat diperjualbelikan. Makin banyak permintaan mata uang maka makin tinggi nilai atau harga mata uang tersebut dan sebaliknya. Inilah yang terjadi pada mata uang rupiah.
Kenaikan harga uang dalam sistem ekonomi kapitalisme bergantung pada tingkat kepercayaan pasar terhadap mata uang tertentu. Dunia saat ini menggunakan dolar sebagai acuan utama mata uang dunia. Fluktuasi nilai dolar akan berdampak pada nilai mata uang rupiah. Menaikkan suku bunga adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk memulihkan ekonomi dan menekan pelemahan nilai rupiah.
Namun, upaya ini akan menimbulkan masalah baru. Suku bunga acuan yang tinggi akan membuat bunga kredit perbankan ikut naik. Sehingga akan mengerem pertumbuhan ekonomi dan melemahnya investasi dalam sektor rill. Upaya yang dilakukan pemerintah saat ini justru tidak menjadi jalan keluar bahkan berisiko mematikan aktivitas ekonomi domestik. Inilah akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme karena bergantung pada sektor non riil yang spekulatif dan manipulatif.
Para spekulan ingin memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uang di negara yang tingkat suku bunganya dianggap aman atau relatif tinggi sehingga uang akan terus berpindah dari negara yang suku bunganya lebih rendah ke negara yang suku bunganya lebih tinggi. Transaksi ribawi inilah yang menjadikan nilai mata uang terus mengalami ketidakstabilan. Jika ingin menyelesaikan permasalahan nilai rupiah yang terus melemah, maka negara harus meninggalkan sistem ekonomi kapitalisme.
Islam, Solusi Mengatasi Krisis
Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan uang sebagai komoditas transaksi ribawi. Sehingga mata uang dalam sistem ekonomi kapitalisme selalu dalam spekulasi dan berbasis pada sektor non rill. Berbeda dengan ekonomi kapitalisme, Islam akan meletakkan uang sesuai fungsinya, yaitu sebagai alat tukar saja. Permasalahan krisis ekonomi dapat diselesaikan dengan membangun kembali sektor rill dan menghapus praktek ribawi yang berasal dari sektor non riil (pasar saham).
Sistem ekonomi Islam akan memberlakukan mata uang berbasis emas dan perak. Selain implementasi dari perintah syariat, mata uang dinar dan dirham sudah terbukti memiliki keunggulan. Mata uang tersebut lebih stabil karena memiliki nilai fisik yang tinggi dan berharga ketimbang mata uang kertas.
Ekonomi dalam sistem Islam ditopang oleh transaksi riil, yaitu produksi barang dan jasa. Sehingga setiap nilai yang dihasilkan dalam transaksi itu riil menggerakkan ekonomi masyarakat, bukan hanya “diam” di bank atau pasar modal. Negara akan membuka lapangan pekerjaan sehingga memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga (muslimahnews).
Negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat. Seperti larangan riba, jaminan distribusi, dan pengaturan kepemilikan sesuai syariat. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil dan manusiawi. Rasulullah bersabda, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.“ (HR. Muslim dan Ahmad)
Hadits tersebut bermakna bahwa penguasa dalam Islam (imam) adalah pengurus (raa’in) sekaligus perisai (junnah). Ia berkewajiban memelihara urusan rakyatnya, termasuk melindungi mereka dari kesulitan hidup. Negara wajib menyejahterakan dan memenuhi kebutuhan pokok masyarakat melalui sistem ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam.
Pengelolaan sumber daya alam tidak diserahkan kepada individu ataupun swasta. Pengelolaan SDA oleh negara akan dikembalikan dalam layanan pendidikan dan kesehatan gratis. Begitu pula dengan layanan publik berupa layanan komunikasi, transportasi, energi, air, dan lainnya dipastikan berkualitas dan terjangkau oleh rakyat secara umum.
Islam juga mengatur urusan politik luar negeri yang secara tegas mengatur kerjasama hanya untuk negara-negara yang terikat perjanjian. Sehingga hubungan dagang tidak akan dilakukan atas motif kepentingan penguasaan ekonomi global. Akan tetapi, didasarkan pada manfaat dari pertukaran komoditas dagang.
Demikianlah pengaturan Islam dalam menghadapi persoalan nilai tukar mata uang. Sudah saatnya kita kembali pada pengaturan sistem Islam sehingga Islam rahmatan lil 'alamiin benar-benar akan terwujud. Wallahualam bissawab. [Eva/MKC]