Menjemput Kemenangan dengan Berutang Ribawi
OpiniIndonesia butuh perubahan nyata
Bukan sekadar janji manis bantuan sosial yang sering kali salah sasaran
_________________________
Penulis Nurhikmah Oktavia
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Lebaran biasanya menyisakan hangat di hati dan binar bahagia di wajah. Namun, tahun ini banyak keluarga yang justru pulang mudik dengan perasaan sunyi yang mencekam. Di balik tawa saat sungkeman dan keriuhan jamuan di ruang tamu, tersimpan rahasia kecil yang menyedihkan: saldo tabungan ludes atau bayang-bayang cicilan yang mengintai.
Fenomena "sakit dompet" pasca-Lebaran ini bukan sekadar perasaan kolektif. Laporan terbaru dari Kompas.com (20-02-2026) menunjukkan lonjakan tagihan pinjol akibat biaya Lebaran yang tak terkendali. Euforia hari raya sering kali harus dibayar mahal dengan tumpukan tagihan yang menghantui saat kalender berganti.
Alarm Kritis Ekonomi Keluarga
Kondisi ini diperparah dengan situasi ekonomi makro yang kian kritis. Melansir laporan dari Inilah.com (04-04-2026) ekonomi kita tengah terjepit dampak perang global yang membuat daya beli rontok, ditambah nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.000. Ini adalah alarm serius bagi ketahanan energi dan ekonomi keluarga.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa semua ini bukan sekadar soal gaya hidup. Rakyat terpaksa berutang karena memang tidak punya pilihan lain. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi sementara upah seolah jalan di tempat. Rakyat telah digiring paksa ke lubang buaya bernama riba demi dapur tetap mengepul atau sekadar menjaga harga diri di kampung halaman.
Allah Swt. sudah memberi peringatan keras dalam surah Al-Baqarah ayat 276, yang artinya: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah..."
Negara Harus Jadi Pelindung, Bukan Penonton
Sangat berbeda jika kita menengok bagaimana Islam mengatur urusan rakyat. Rasulullah saw. adalah sosok yang paling khawatir jika umatnya terlilit utang. Beliau sering berdoa agar terhindar dari ghalabatid-dayn (beban utang).
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. dengan tegas menyatakan:
"Siapa saja yang meninggalkan beban (utang) atau keluarga yang terlantar, maka datanglah kepadaku, karena akulah pelindungnya (wali).” (HR. Muslim)
Lihatlah betapa indahnya jaminan negara dalam Islam. Jika ada rakyat yang terpaksa berutang untuk menyambung hidup dan benar-benar tidak mampu melunasinya, maka Baitulmal (kas negara) yang akan mengambil alih beban tersebut.
Saatnya Kembali pada Aturan yang Berkah
Dalam sistem kapitalisme hari ini, kesejahteraan seolah-olah hanya tanggung jawab masing-masing individu. Kalau tidak punya uang, ya harus berhemat atau cari pinjaman. Negara lebih sibuk menjaga angka statistik dan kepentingan para pemilik modal, sementara kekayaan hanya berputar di lingkaran segelintir orang kaya saja.
Allah Swt. sudah melarang ketimpangan ini dalam surah Al-Hasyr ayat 7, yang artinya: "...supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu."
Keluarga Indonesia butuh perubahan nyata, bukan sekadar janji manis bantuan sosial yang sering kali salah sasaran. Kita butuh sistem ekonomi yang mampu menstabilkan harga dan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya sehingga para ayah bisa menghidupi keluarga dengan tangan sendiri tanpa harus mengemis pada aplikasi pinjol.
Wahai para ibu dan kepala keluarga, mari kita jadikan momen pasca-Lebaran ini sebagai titik balik. Kemenangan sejati bukanlah pada baju baru atau kemewahan hasil utang, melainkan pada keberanian kita untuk memutus rantai riba dan kembali pada syariat Allah secara utuh. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]











