AS-Isra*l Akan Tumbang dengan Persatuan Islam
Opini
Kemuliaan kaum muslim menjadi satu tubuh yang kokoh
tak tergoyahkan di bawah persatuan umat
______________________________
Penulis Siti Rahmawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Amerika Serikat-Isra*l serang Iran. Khamanei meninggal, Trump klaim kemenangan total usai AS melakukan gencatan senjata dengan Iran. Kemenangan mutlak diraih setelah Washington dan Teheran menyetujui gencatan senjata selama 2 minggu. Langkah ini menandai jeda pertama dalam konflik bersenjata yang mengguncang kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari. (Kompas.com, 08-04-2026)
Pengakuan Amerika Serikat bukan tanpa bukti. Menurutnya Amerika Serikat telah memperingatkan Iran di KTT Board of Peace untuk melarang punya senjata nuklir dan kesepakatan uranium yang menjadi kunci dalam perang.
Kesepakatan pun terus berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat di mana Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan gencatan senjata bukan berarti perang berakhir. "Tangan kami tetap berada di pelatuk dan kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh."
Duta besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa negaranya meraih kemenangan setelah terlibat konfrontasi bersenjata selama lebih dari 40 hari melawan Amerika Serikat (AS) dan Isra*l. Pernyataan ini muncul disampaikan menjelang negosiasi bersenjata selama lebih dari 40 hari melawan Amerika Serikat dan Isra*l.
Dalam dunia politik Iran memang berhasil menggagalkan ambisi perang kilat (blitzkrieg) yang diupayakan AS dan Isra*l. Mereka mengeklaim pihak lawan awalnya menargetkan pelumpuhan cepat termasuk pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun, ternyata Iran mampu mengimbangi serangan dari AS-Isra*l.
Berdasarkan laporan media pemerintah Iran dan kantor berita Anadolu, AS menerima 10 syarat tuntutan gencatan senjata yang diajukan Teheran sebagai landasan negosiasi, yaitu:
- Non-Agresi: AS berkomitmen menjamin tidak akan melakukan agresi terhadap Iran.
- Selat Hormuz: Kontrol dan keamanan Selat Hormuz tetap di bawah kendali Iran.
- Pengayaan Uranium: AS menerima hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
- Pencabutan Sanksi Utama: Pencabutan semua sanksi ekonomi utama terhadap Iran.
- Pencabutan Sanksi Sekunder: Penghapusan sanksi sekunder yang membatasi perdagangan.
- Resolusi Dewan Keamanan PBB: Penghentian/pencabutan semua resolusi DK PBB terhadap Iran.
- Resolusi IAEA: Penghentian semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terhadap program nuklir Iran.
- Kompensasi: Pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan pada Iran.
-Penarikan Pasukan: Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan regional.
- Perang Regional: Penghentian perang di semua front, termasuk di Lebanon.
Kesepakatan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan militer setelah konflik dengan negosiasi lanjutan yang direncanakan di Islamabad.
Nyatanya AS berkoar-koar telah memenangi peperangan dan menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat. Namun, Iran menolak dan membalas dengan serangan ke titik-titik penting yang ada di Timur Tengah. Iran tidak ingin menjadi negara yang tunduk terhadap aturan AS yang banyak merugikan kepentingan rakyatnya. Rakyat dan pemimpin Iran lebih memilih diembargo daripada tunduk pada keinginan AS.
Sedangkan AS berambisi untuk menguasai penuh wilayah Timur Tengah yang kaya sumber daya alam, juga geopolitik dan geostrategis. AS pun ingin Iran dipimpin oleh pemimpin pilihannya yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya, bukan pemimpin susah diatur yang menjadi penghalang kekuasaan AS. Ini membuktikan bahwa AS-Isra*l tidak sepenuhnya mempunyai kekuatan penuh karena dengan perlawanan Iran yang penuh mampu membuat ketar-ketir AS-Isra*l.
Buruknya sistem kapitalis global nampak jelas dalam kepemimpinan kapitalisme global. AS sebagai negara adidaya terus menjalankan idenya yakni ideologi kapitalis yang berlandaskan akidah sekularisme dan liberalisme yang terus ditanamkan di negara-negara Islam. Di mana para pemimpin negara Islam diikat oleh perjanjian yang batil. Perjanjian yang menjadikan para pemimpin kaum muslim seperti bebek yang harus tunduk patuh pada kebijakan AS. Mereka tidak peduli seakan tutup mata dengan apa yang dilakukan AS-Isra*l terhadap saudaranya sendiri, yaitu Iran.
Maka wajar jika kepemimpinan dalam kapitalisme sangat destruktif dan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Kapitalisme justru mendorong negara-negara kuat untuk melegitimasi perbudakan dan penjajahan modern. Mereka memanipulasi negara lain untuk kepentingan nasionalnya atas nama nilai demokrasi seperti yang tampak pada perang AS-Isra*l.
Seharusnya persatuan negeri-negeri muslim bisa terwujud dalam satu kepemimpinan. Namun, negara-negara Islam terpecah belah disekat nasionalisme dan kepentingan. Akhirnya, yang ada hanya sekutu sementara hingga menimbulkan pengkhianatan negara Islam yang berbuntut pada kelemahan persatuan kaum muslim itu sendiri.
Beda dalam sistem Islam. Islam menjadikan seluruh kaum muslim harus taat pada satu kepemimpinan. Pemimpin akan menjadi garda terdepan untuk membela rakyat dan negaranya baik muslim dan nonmuslim dalam satu naungan, yaitu Khil4fah Islamiah.
Ketika sistem Islam sudah tidak menjadi peraturan dalam seluruh aspek kehidupan satu abad yang lalu, kaum muslim mau tidak mau harus mengikuti sistem kapitalis liberalisme. Seluruh kehidupannya tidak lagi berdasarkan keridaan Allah Taala, tetapi berdasarkan kehendak manusia dan keuntungan semata.
Mengembalikan kepemimpinan Islam merupakan sesuatu yang mutlak adanya. Terwujudnya syariat Islam secara sempurna dan tercapainya persatuan umat di seluruh dunia. Negeri-negeri muslim bersatu menggambarkan kekuatan Islam di bawah satu kepemimpinan untuk meninggikan kalimat Allah dengan dakwah dan jihad fisabilillah.
Nabi Muhammad saw. bersabda: "Sungguh, mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti sebuah bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain." (HR. Al-Bukhari)
Apa yang terjadi antara perang Iran dan AS-Isra*l merupakan salah satu kezaliman dan kerakusan Barat untuk terus mengekang, menindas, menyiksa, menyengsarakan, bahkan menghilangkan kaum muslim. Kebangkitan Islam menjadi ketakutan bagi Barat, kejayaan Islam akan terulang ketika persatuan Islam bisa terwujud secara hakiki. Kaum muslim mampu mengalahkan hegemoni kafir Barat dan membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan Barat.
Namun, ketika umat Islam tercerai berai, sungguh kekuasaan kaum muslim pun tak nampak, kaum muslim jumlahnya banyak, tetapi seperti buih di lautan. Oleh karenanya, kaum muslim harus mengembalikan persatuan dengan membangun kesadaran umat sesuai Islam kafah secara bersama-sama, di mana pun dan kapan pun sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw..
Kemuliaan kaum muslim menjadi satu tubuh yang kokoh tak tergoyahkan di bawah persatuan umat. Sudah saatnya kesadaran untuk mengubah pemikiran ke arah Islam yang hakiki dengan cara pandang bahwa aturan Islam menjadi solusi seluruh permasalahan kehidupan. Membina dengan terus menjaga akidah Islam dan pemahaman tsaqafah kaum muslim tentang bobroknya sistem kapitalis liberalisme yang melahirkan nasionalisme atau penjajahan gaya baru yang direncanakan oleh Barat. Mendakwahkan Islam kafah sesuai yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat sehingga kaum muslim kembali bangkit dan kepemimpinannya berwibawa kembali.
Dengan sistem Islamlah persatuan umat dalam satu negara di bawah kepemimpinan yang satu mampu terwujud. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 103: "Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai."
Walhasil, untuk bisa membungkam negara AS-Isra*l yang saat ini menjadi negara adidaya hanya dengan persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia di bawah satu kepemimpinan yang mengembalikan syariat Islam diberlakukan dalam waktu dekat. Wallahualam bissawab.





.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

