Featured Post

Recommended

Idulfitri: Antara Euforia Semu dan Kemenangan Hakiki Umat

Banyak yang masih memandang Ramadan dan Idulfitri secara pragmatis sebatas rutinitas tahunan bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang...

Alt Title
Idulfitri: Antara Euforia Semu dan Kemenangan Hakiki Umat

Idulfitri: Antara Euforia Semu dan Kemenangan Hakiki Umat



Banyak yang masih memandang Ramadan dan Idulfitri secara pragmatis sebatas rutinitas tahunan

bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang utuh


__________________________


Penulis Yulfianis

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Setiap tahun, gema takbir mengguncang langit Indonesia. Jalanan dipenuhi manusia, rumah-rumah terbuka, dan satu kalimat mengalir di mana-mana "Taqabbalallahu minna wa minkum.” Namun di balik kemeriahan itu, muncul satu pertanyaan reflektif: "Apakah kita sedang merayakan kemenangan spiritual, atau sekadar merayakan bebas dari puasa?" (PortalLebak.com, 22-03-26)


Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya bulan Ramadan, tetapi merupakan puncak dari rangkaian ibadah panjang yang dijalani kaum muslim. Ia adalah simbol kemenangan bukan hanya karena berhasil menahan lapar dan dahaga, melainkan karena keberhasilan mengendalikan diri, meningkatkan ketakwaan, serta menumbuhkan kepedulian sosial.


Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)


Namun, di tengah realitas hari ini, makna kemenangan tersebut kian mengalami pergeseran.


Kemenangan Hakiki dalam Perspektif Islam


Dalam Islam, kemenangan sejati tidak diukur dari aspek fisik semata. Menahan lapar dan dahaga hanya bagian kecil dari proses pembinaan diri selama Ramadan. Kemenangan hakiki terletak pada keberhasilan seorang muslim dalam meningkatkan kualitas iman dan takwa.


Ramadan mendidik umat untuk lebih dekat kepada Allah, memperbanyak ibadah, serta menumbuhkan empati sosial melalui zakat, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama. Di sinilah letak kemenangan itu, ketika seorang muslim keluar dari Ramadan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih peduli.


Jejak Sejarah: Ramadan dan Perjuangan Umat


Sejarah mencatat bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi bulan perjuangan. Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak peristiwa besar terjadi di bulan ini di antaranya pertempuran yang menunjukkan keteguhan iman kaum muslim meski dalam kondisi berpuasa.


Hal ini menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum pembinaan ruhiyah sekaligus penguatan mental dan perjuangan. Idulfitri kemudian menjadi simbol kemenangan atas perjuangan tersebut baik dalam aspek spiritual maupun dalam menghadapi tantangan dakwah.


Pergeseran Makna Idulfitri di Era Modern


Sayangnya, makna mendalam Idulfitri kini sering kali tereduksi menjadi sekadar perayaan seremonial. Fokus umat cenderung bergeser pada aspek lahiriah, hidangan berlimpah, pakaian baru, dan euforia sesaat.


Fenomena ini menunjukkan bahwa kemenangan sering dimaknai sebatas bebas dari kewajiban puasa, bukan sebagai hasil dari perjuangan spiritual yang mendalam. Bahkan, tidak sedikit yang menyambut Idulfitri dengan semangat tinggi, tetapi mengabaikan kualitas ibadah selama Ramadan.


Problematika Penentuan Awal Syawal


Di Indonesia, perbedaan penentuan awal Ramadan dan Idulfitri kerap menjadi polemik tahunan. Sebagian umat berpegang pada rukyat (melihat hilal), sementara yang lain mengikuti hisab atau keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat.


Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan yang jelas tentang penentuan awal bulan hijriah. Namun dalam praktiknya, perbedaan metode ini sering memicu perdebatan, bahkan perpecahan di tengah umat. Ironisnya, perbedaan tersebut tidak jarang disikapi dengan fanatisme kelompok, bukan dengan sikap ilmiah dan ukhuwah.


Umat di Persimpangan: Antara Ideologi dan Pragmatisme


Mayoritas umat Islam di Indonesia belum sepenuhnya menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak secara menyeluruh. Banyak yang masih memandang Ramadan dan Idulfitri secara pragmatis sebatas rutinitas tahunan, bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang utuh.


Kondisi ini diperparah oleh dominasi nilai-nilai materialisme dan individualisme yang secara perlahan menggerus kesadaran spiritual dan ideologis umat. Akibatnya, semangat persatuan dan perjuangan yang seharusnya lahir dari Ramadan tidak terwujud secara nyata.


Menuju Kebangkitan Umat: Kembali pada Islam kafah


Untuk meraih kembali predikat khairu ummah (umat terbaik), umat Islam perlu kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh (kafah). Ramadan dan Idulfitri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan akhir dari ibadah.


Peran ulama dan para dai sangat penting dalam membina umat agar memiliki kesadaran ideologis yang kuat. Selain itu, diperlukan kesatuan visi dan langkah untuk menghadirkan kembali kemenangan yang hakiki bukan sekadar euforia sesaat, tetapi perubahan nyata dalam kehidupan umat. [Dara/MKC]

Jangan Lupakan Bencana Aceh dan Sumatra, Hanya Islam Solusi Hakikinya

Jangan Lupakan Bencana Aceh dan Sumatra, Hanya Islam Solusi Hakikinya



Banjir yang terus berulang setiap tahun bukan sekadar bencana alam

tetapi cerminan dari rusaknya sistem kapitalisme dalam mengelola negeri ini

___________


Penulis Marlina Wacti, S.E 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Kebijakan Publik


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Masihkah kita mengingat saudara kita yang terkena banjir, apa kita sengaja lupa dengan bencana itu?


Hampir tiga bulan lebih banjir masih menimpa saudara-saudara kita yang ada di Aceh dan Sumatra apakah sudah diurus oleh negara atau mereka melupakan kejadian itu?


Di Aceh dan di berbagai wilayah Sumatra suara sirine mungkin sudah berhenti. Kamera media juga mungkin sudah pergi karena headline sudah berganti. 


Namun, bagi mereka perjuangan belum selesai. Ada ibu yang masih membersihkan lumpur di dalam rumahnya. Di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, masih ada 352 kepala keluarga atau 1.396 orang sebagai korban banjir yang masih tinggal di pengungsian. Memang bencana banjir ini sudah lewat tiga bulan. Namun, mereka belum bisa pulang karena rumah sementara belum selesai dibangun.


Dari jumlah itu, ada 61 bayi dan 106 anak balita. Jumlah ini lebih banyak dibanding data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat 992 orang pengungsi. Menurut Kepala BPBD Aceh Tamiang, Imam Suhery (Bayu), data pengungsi terus berubah. 


Hal ini karena sebagian warga yang sudah menerima bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) memilih menyewa rumah sambil menunggu rumah tetap selesai dibangun setelah lebaran. Saat ini, pengungsi masih tersebar di enam kecamatan, yaitu Kejuruan Muda, Sekerak, Rantau, Tamiang Hulu, Bandar Pusaka, dan Kota Kuala Simpang. 


Jumlah terbanyak berada di Kecamatan Sekerak (517 orang) dan Bandar Pusaka (233 orang). Pemerintah sebenarnya menargetkan rumah sementara selesai sebelum Lebaran. Namun, kemungkinan besar tidak akan selesai tepat waktu. Karena itu, warga ditawarkan bantuan DTH agar bisa tinggal di rumah sewa sementara waktu sampai rumah tetap mereka dibangun. (Kompas.com, 08-03-2026)


Sistem Kapitalisme Tidak Bisa Menyelesaikan Masalah Banjir


Banjir yang terus terjadi dan lamanya penanganan korban, seperti di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa sistem yang ada saat ini belum mampu menyelesaikan masalah secara tuntas. Setiap tahun, bencana yang sama berulang. Sementara, solusi yang diberikan hanya bersifat sementara, seperti relokasi pengungsian atau bantuan sewa rumah. 


Tentu hal ini menandakan bahwa akar masalah belum benar-benar diselesaikan. Dalam sistem yang berjalan sekarang, penanganan bencana cenderung reaktif, bukan preventif. Pembangunan yang kurang memperhatikan lingkungan, pengelolaan hutan yang lemah, serta drainase yang tidak memadai menjadi penyebab utama banjir terus terjadi. 


Anehnya, solusi yang diberikan sering tidak menyentuh aspek mendasar sehingga masyarakat terus menjadi korban. Masalah banjir yang terus berulang menunjukkan bahwa sistem kapitalisme belum mampu memberikan solusi tuntas. Dalam sistem ini, pembangunan lebih mengutamakan keuntungan dibanding keselamatan lingkungan. 


Hutan tetap ditebang, lahan resapan air berkurang, dan tata kota tidak terencana dengan baik. Akibatnya, banjir terus terjadi setiap tahun. Selain itu, penanganan banjir dalam sistem kapitalisme cenderung bersifat sementara dan tidak tuntas. 


Negara hanya fokus pada bantuan setelah bencana, seperti pengungsian atau dana bantuan, bukan pada pencegahan jangka panjang. Maka hal ini membuat masyarakat terus menjadi korban berulang tanpa ada perubahan yang signifikan. Kapitalisme juga mendorong pengelolaan sumber daya oleh pihak swasta yang berorientasi pada profit. 


Maka dampaknya kepentingan lingkungan sering diabaikan. Sungai bisa tercemar, hutan gundul, dan daerah rawan banjir tetap dibangun demi keuntungan ekonomi. Karena itu, selama sistem kapitalisme masih digunakan, masalah banjir akan sulit diselesaikan secara menyeluruh. Dibutuhkan sistem yang benar-benar memprioritaskan kesejahteraan rakyat dan menjaga keseimbangan alam, bukan sekadar mengejar keuntungan.


Hanya Sistem Islam Solusi Hakiki Atasi Banjir dan Kerusakan Negeri ini


Banjir yang terus berulang setiap tahun bukan sekadar bencana alam, tetapi cerminan dari rusaknya tata kelola negeri. Sistem yang ada hari ini terbukti gagal mengurus lingkungan, gagal menjaga hutan, dan gagal melindungi rakyat. Pembangunan seringkali hanya berorientasi pada keuntungan, bukan keselamatan. Inilah wajah sistem kapitalisme mengutamakan materi, mengabaikan tanggung jawab. 


Dalam pandangan Islam, pemimpin adalah ra’in (pengurus) yang bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Artinya, negara wajib memastikan tidak ada kebijakan yang merusak alam, seperti penebangan hutan liar, alih fungsi lahan sembarangan, dan pembangunan tanpa perhitungan dampak lingkungan. Sistem Islam memiliki aturan yang jelas dalam menjaga keseimbangan alam. Hutan, sungai, dan sumber daya alam bukan untuk dieksploitasi bebas oleh korporasi tetapi dikelola negara untuk kemaslahatan umat.


Negara dalam Islam tidak akan membiarkan banjir terjadi berulang tanpa solusi, karena setiap kebijakan akan diikat dengan hukum syara’ bukan kepentingan ekonomi semata. Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan bahwa bencana adalah peringatan agar manusia kembali kepada aturan Allah.


Sebagaimana firman-Nya:


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)


Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan termasuk banjir adalah akibat ulah manusia yang meninggalkan aturan Allah. Maka solusi sejatinya bukan hanya teknis, tetapi juga sistemik kembali kepada aturan Islam secara menyeluruh.


Adapun tentang kembalinya kepemimpinan Islam, Rasulullah ﷺ telah memberi kabar gembira:


“Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)


Hadis ini menjadi harapan bahwa sistem Islam akan kembali memimpin, membawa keadilan, dan mengatur kehidupan manusia sesuai dengan wahyu. 


Dalam naungan Khil4fah Islamiah, pengelolaan lingkungan akan dilakukan secara amanah, terencana, dan berorientasi pada keberkahan, bukan sekadar keuntungan. Maka jelas, solusi banjir tidak cukup dengan proyek tambal sulam atau bantuan sementara. Dibutuhkan perubahan sistem yang mendasar. Dan hanya sistem Islamlah yang memiliki konsep menyeluruh untuk menjaga manusia, alam, dan kehidupan secara seimbang. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Ketika Efisiensi Menggeser Hak Pendidikan: Tinjauan Islam atas Wacana Sekolah Daring 2026

Ketika Efisiensi Menggeser Hak Pendidikan: Tinjauan Islam atas Wacana Sekolah Daring 2026



Fakta ini menunjukkan bahwa pembelajaran daring bukanlah metode ideal

untuk diterapkan secara luas dalam kondisi normal

_________________________


Penulis Hj. Devi Novianti

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Wacana penerapan pembelajaran daring setelah libur Lebaran 2026 menghadirkan diskursus yang tidak sederhana. Pemerintah melalui Pratikno mengemukakan bahwa opsi ini sedang dikaji sebagai bagian dari strategi penghematan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini disebut akan tetap menjaga keberlangsungan pendidikan agar tidak terganggu. Informasi tersebut telah dipublikasikan oleh. Detik.com


Efisiensi Anggaran Pendidikan


Namun, di balik narasi efisiensi tersebut tersimpan persoalan mendasar: Apakah pantas pendidikan yang menjadi fondasi masa depan generasi dijadikan instrumen penyesuaian kebijakan energi?


Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar sektor administratif yang bisa diatur berdasarkan kondisi anggaran atau efisiensi teknis. Pendidikan adalah kebutuhan mendasar umat yang berkaitan langsung dengan pembentukan manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak. Hal ini tercermin dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ:


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)


Ayat ini tidak hanya berbicara tentang aktivitas membaca, tetapi menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu. Dengan demikian, kebijakan apa pun yang berpotensi melemahkan proses pendidikan harus dipandang sebagai persoalan serius, bukan sekadar pilihan teknis.


Allah ﷻ juga menegaskan:


“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)


Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki posisi strategis dalam Islam. Ia bukan hanya sarana untuk kehidupan dunia, tetapi juga jalan menuju kemuliaan di sisi Allah. Maka menjaga kualitas pendidikan sejatinya adalah menjaga masa depan umat itu sendiri.


Dari sisi tanggung jawab negara, Islam memiliki prinsip yang tegas. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa negara tidak hanya berfungsi sebagai pembuat kebijakan, tetapi sebagai penanggung jawab utama atas terpenuhinya kebutuhan rakyat, termasuk pendidikan. Artinya, negara tidak boleh mengambil kebijakan yang berpotensi mengurangi kualitas layanan pendidikan, apalagi jika dampaknya telah terbukti sebelumnya.


Pengalaman pada masa pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting. Pembelajaran daring memang menjadi solusi darurat, tetapi bukan tanpa konsekuensi. Banyak siswa mengalami kesulitan memahami materi, keterbatasan akses teknologi menjadi hambatan nyata, dan interaksi antara guru dan murid yang sangat penting dalam pembentukan karakter menjadi berkurang drastis. Ketimpangan pendidikan pun semakin terlihat antara daerah yang memiliki akses teknologi dan yang tidak.


Fakta ini menunjukkan bahwa pembelajaran daring bukanlah metode ideal untuk diterapkan secara luas dalam kondisi normal. Oleh karena itu, menjadikannya sebagai kebijakan berbasis efisiensi energi patut dipertanyakan.


Dalam perspektif Islam, persoalan ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan sumber daya alam. Indonesia adalah negara yang kaya akan energi. Dalam konsep Islam, sumber daya tersebut termasuk kepemilikan umum yang harus dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Jika terjadi masalah dalam distribusi atau konsumsi energi, maka yang seharusnya dibenahi adalah tata kelolanya, bukan justru mengurangi kualitas layanan dasar seperti pendidikan.


Ketika pendidikan dijadikan variabel penyesuaian, hal ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas. Kebijakan yang seharusnya melindungi hak dasar justru berpotensi mengurangi kualitasnya. Inilah yang sering muncul dalam sistem yang berorientasi pada efisiensi dan biaya, di mana aspek kemaslahatan jangka panjang kerap dikalahkan oleh pertimbangan praktis jangka pendek.


Berbeda dengan Islam, yang menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam membangun peradaban. Negara dalam Islam tidak hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga memastikan kualitasnya tetap terjaga. Pendidikan tidak boleh dijadikan objek eksperimen kebijakan yang berisiko menurunkan mutu generasi.


Selain itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya berfungsi mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah). Proses ini membutuhkan interaksi langsung, keteladanan, dan pembinaan yang berkesinambungan—sesuatu yang sulit dicapai melalui pembelajaran daring.


Dengan demikian, wacana pemberlakuan sekolah daring pascaLebaran 2026 seharusnya tidak dilihat sebagai solusi sederhana. Ia perlu dikaji secara mendalam dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan. Efisiensi energi memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan hak dasar rakyat.


Negara seharusnya mencari solusi yang lebih strategis dan komprehensif, seperti memperbaiki tata kelola energi, meningkatkan efisiensi sektor lain yang tidak berdampak langsung pada pelayanan publik, atau mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki.


Pada akhirnya, pendidikan adalah investasi peradaban. Mengorbankannya demi efisiensi jangka pendek sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa. Dalam Islam, amanah kepemimpinan tidak hanya diukur dari keberhasilan mengelola sumber daya, tetapi juga dari kemampuan menjaga dan membina generasi.


Karena setiap kebijakan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban—bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah ﷻ. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Alkohol dalam Perjanjian ART demi Pariwisata ala Kapitalisme

Alkohol dalam Perjanjian ART demi Pariwisata ala Kapitalisme




Dalam sistem kapitalis setiap barang yang memiliki permintaan dipasar dianggap barang ekonomis

Sehingga produksi, distribusi atau peredaran dan konsumsinya bebas dalam sistem kapitalis


____________________


Penulis Ria Nurvika Ginting, SH, MH

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perjanjian Perdagangan Resiprokal RI-AS atau The Agreement on Resiprokal Trade (ART) yang diteken pada Kamis, 19 Februari 2026 di Washington DC lalu mencantumkan mengenai Indonesia mengimpor produk minuman alkohol asal Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut bahwa porsi impor dari AS relatif kecil dari total impor minuman alkohol nasional.


Pada tahun 2025, total impor produk minuman alkohol Indonesia mencapai USD1,23 miliar sedangkan impor yang berasal dari AS tercatat sekitar USD86,1 juta atau hanya sekitar 7 persen dari total impor minuman alkohol nasional. Ini relatif kecil dibandingkan importasi dari negara-negara Eropa. (Line1.news.com, 23-2-26)


Haryo menyebutkan bahwa ketersediaan produk yang beragam dan berkualiltas dari minuman beralkohol tersebut penting untuk mendukung daya saing di bidang pariwisata. Salah satunya untuk meningkatkan pengeluaran wisatawan asing ketika berwisata di tanah air. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan tetap memastikan perlindungan produk domestik. Pemerintah akan secara aktif mempromosikan minuman beralkohol seperti bir dan wine yang merupakan komoditas ekspor unggulan.


Selain itu, Haryo juga memastikan bahwa seluruh impor minuman beralkohol dari AS tersebut tetap tunduk pada regulasi yang berlaku. Proses importasi harus memenuhi persyaratan perizinan, pencantuman keterangan informasi, serta ketentuan keamnan pangan yang diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (JawaPost.com, 23-2-26)


Alkohol Legal dan Ilegal


Alkohol yang beredar di tengah-tengah masyarakat jika memiliki izin dikatakan alkohol legal. Mengapa demikian? Alkohol resmi atau berizin hanya dapat dibeli di hotel atau supermarket. Jika terjadi kasus meninggalnya seseorang diakibatkan alkohol dipastikan bukan alkohol resmi, tetapi oplosan.


Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Kebijakan Publik Danang Girindrawardana dalam perbincangan bisnis yang diadakan di Restoran Salero Jumbo pada Rabu, 21 September 2021. Dia merasa negara mencampuradukkan masalah ekonomi dengan masalah sosial ketika pemerintah membahas mengenai pelarangan minuman beralkohol (minol) ketika itu. 


Minuman alkohol yang akan diimpor oleh Indonesia juga merupakan alkohol legal yang mendapatakan izin dari pemerintah. Pemerintah beralasan ini untuk meningkatkan daya saing di bidang pariwisata. Wisatawan asing akan betah dan senang jika minuman alkohol yang disediakan di tempat wisata banyak ragamnya dan berkualitas.


Beginilah gambaran negeri yang menerapkan sistem kapitalis-liberal yang mana berdiri atas dasar pemisahan agama dari kehidupan dan segala sesuatu dinilai dengan materi (keuntungan) sehingga semua lini kehidupan dijadikan lahan bisnis tanpa melihat apakah hal tersebut halal atau haram. Dalam sistem kapitalis, setiap barang yang memiliki permintaan di pasar dianggap barang ekonomis.


Alhasil, produksi, distribusi atau peredaran dan konsumsinya bebas dalam sistem kapitalis. Negara berperan sebagai regulator sehingga yang beredar adalah minuman alkohol yang legal menurut undang-undang. Demi keuntungan yang lebih banyak lagi pada sektor pariwisata pemerintah bersedia untuk menyediakan kebutuhan wisatawan asing. Salah satunya yakni minuman beralkohol ini.


Dengan beragam dan berkualitasnya minuman alkohol yang disediakan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke tanah air. Inilah konsep sistem kapitalis-sekuler yang tidak memandang halal atau haram. Selama menghasilkan ‘cuan’ halal atau haram tidak menjadi pertimbangan. 


Pariwisata dalam Islam 


Dalam sistem pemerintahan Islam yakni Daulah Islam, pariwisata tidak termasuk bagian yang menjadi sumber ekonomi Islam. Pariwisata dalam Islam merupakan sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Menjadi sarana dakwah karena manusia baik muslim maupun non-muslim biasanya akan tunduk dan takjub dengan menyaksikan keindahan alam.


Pada titik ini potensi yang diberikan Allah (objek wisata) digunakan untuk menumbuhkan keimanan pada Sang Khaliq. Yang sebelumnya tidak beriman  akan beriman, yang sudah beriman akan mengokohkan keimanannya. Menjadi sarana propaganda karena dengan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah dari peradaban Islam ini siapa pun yang sebelumnya tidak yakin akan keagungan dan kemuliaan Islam, umat dan peradabannya akhirnya bisa diyakini dan menjadi yakin. 


Islam tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Berbeda dengan sistem kapitalis-sekuler yang menjadikan pariwisata sebagai sumber perekonomiannya sehingga akan menggunakan cara apa pun untuk kepentingan ekonomi dan bisnis ini. Bahkan akan mentolelir praktik kemaksiatan seperti melegalkan minuman alkohol atau menyediakan tempat bercampurnya laki-laki dan perempuan.


Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah al-Maidah: 90-91, " Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung."


Namun, perbuatan keji ini yang Indonesia setujui dengan menyetujui perjanjian dagang, mengimpor minuman alkohol dari AS untuk meningkatkan sumber penerimaan ekonomi dari bidang pariwisatanya. Sedangkan Islam memiliki sumber pendapatan tetap yang menjadi pos pemasukan perekonomiannya.


Dengan demikian, Islam akan dapat menjaga kemurnian ideologi dan peradabannya dari berbagai invasi budaya yang datang dari luar. Pada saat yang sama, Islam dapat mengemban dakwah baik kepada mereka yang memasuki wilayahnya maupun rakyat negara kafir di luar wilayahnya. Beginilah kebijakan yang ditetapkan Islam dalam bidang pariwisata. Hal ini hanya bisa terwujud dengan adanya sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara kafah. Wallahualam bissawab [Dara/MKC]

After Lebaran What’s Next?

After Lebaran What’s Next?



Ramadan boleh pergi, tetapi semangatnya tetap menyala di hati

Yuk, jadi generasi takwa yang taat sepanjang hayat

______________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE – Bulan Ramadan telah usai. Kemeriahan Idulfitri pun sudah berlalu. Terkadang kita merasa hampa dan seperti kehilangan sesuatu akibat adanya perubahan aktivitas dari Ramadan ke bulan Syawal. Lantas apa yang harus kita lakukan agar semangat ibadah di Ramadan tetap menyala di bulan-bulan yang lain? 


Untuk menjawab rasa penasaran itu, Komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk “After Lebaran What’s Next?” pada Ahad, 29 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pelajardan mahasiswa area Kota Bandung, Jawa Barat. 


Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi tanya jawab dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman para remaja muslimah yang menghadiri acara ini. 


Pemateri menyebutkan realita para remaja setelah Lebaran. Ada yang kembali melakukan hobinya seperti kulineran dan olahraga. Muslimah menanggalkan baju tertutupnya diganti lagi dengan busana yang mengumbar aurat. Kembali lagi ngegibahin orang lain. Pacaran lagi setelah putus saat Ramadan. 


Penyebab dari realita tersebut adalah kehidupan sekuler (menjauhkan nilai-nilai agama) telah menyebabkan Ramadan dan lebaran hanya jadi tren tahunan. Taatnya cuman sebulan, setelah itu kembali lagi kemaksiatan merajalela.


Pemateri mengingatkan kita agar dapat memperkuat iman, yaitu dengan menyadari bahwa ajaran Islam itu sempurna dan mengantarkan pada kemuliaan. 


“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridai Islam jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)


Islam juga mempunyai aturan komplit yang mengatur seluruh urusan di dunia ini. Allah memerintahkan kita buat jadi muslim full time


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)


Kita juga harus menyadari bahwa Allah selalu mengawasi kita. Selain itu, umat Islam adalah umat yang terbaik (khairu ummah).


“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran: 110)


Gelar ini bisa didapat karena melaksanakan tiga syarat: amar makruf, nahi mungkar, beriman kepada Allah.


Ada beberapa kunci istiqamah ala sahabat Nabi, yaitu cari lingkungan yang baik, lakukan amal kecil, tetapi rutin, banyak zikir dan doa, ingat akhirat.


“After lebaran what’s next? Jawabannya ngaji. Setidaknya ngaji itu ngasih kita kekuatan untuk menguatkan pondasi keimanan, dipertemukan sama bestie salihah, bertaqarrub kepada Allah jadi kebiasaan, berusaha mengembalikan predikat “khairu ummah” yang saat ini tidak tampak dalam diri umat Islam akibat tidak menerapkan aturan Allah,” ucapnya.


“Ramadan boleh pergi, tetapi semangatnya tetap menyala di hati. Yuk, jadi generasi takwa yang taat sepanjang hayat!” pungkasnya.

Kemenangan Umat Islam pada Momen Idulfitri

Kemenangan Umat Islam pada Momen Idulfitri

 


Pada akhirnya, Idulfitri adalah cermin

Ia memantulkan sejauh mana kita berhasil berubah baik sebagai individu maupun sebagai umat

_________________________


Penulis Miatha 

Kontributor Media Kuntum Cahaya Palembang


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Umat Islam  di seluruh dunia merayakan Idulfitri dengan penuh suka cita di setiap tahunnya. Jalanan dipenuhi takbir, rumah-rumah terbuka untuk silaturahmi, dan tradisi saling memaafkan menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar meraih kemenangan? 


Di Indonesia, perayaan Idulfitri memiliki dinamika tersendiri. Salah satu fakta yang hampir selalu berulang adalah adanya perbedaan penetapan hari Idulfitri di tengah masyarakat. Perbedaan ini muncul karena metode penentuan awal bulan Syawal yang tidak seragam—antara rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). Akibatnya, sebagian umat merayakan lebih dahulu, sementara yang lain menyusul pada hari berikutnya. 


Fenomena ini kerap memunculkan kebingungan bahkan perdebatan antarumat Islam. Namun sejatinya, perbedaan tersebut adalah bagian dari khazanah ikhtilafiyah di dalam Islam. Perbedaan tersebut sebenarnya bisa disatukan apabila umat Islam memiliki pemikiran dan peraturan yang sama. 


Lebih jauh lagi, jika kita melihat dinamika global, umat Islam juga menghadapi realitas yang tidak kalah kompleks. Dalam konflik di Timur Tengah yang saat ini terjadi, sejumlah negara Arab bersama Amerika Serikat mengutuk tindakan Iran yang dinilai memperburuk eskalasi dengan Isra*l. 


Negara Arab Sekutu AS 


Dilansir dari cnbcindonesia.com (02-03-2026), Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada hari Minggu mengutuk Iran. Hal ini terjadi saat Teheran melancarkan serangkaian serangan balas dendam terhadap Isra*l dan AS yang menyerangnya Sabtu. 


Fakta ini menunjukkan bahwa dunia Islam tidak selalu berada dalam satu posisi politik yang seragam. Kepentingan nation state dan tekanan geopolitik sering kali membuat negara-negara muslim berjalan sendiri-sendiri. 


Kondisi ini memperlihatkan satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan yaitu umat Islam saat ini masih disintegrasi, baik dalam aspek pemikiran, politik, maupun kepemimpinan global sehingga persatuan sulit diwujudkan. Akibatnya, suara umat sering kali tidak memiliki kekuatan kolektif yang mampu memberikan pengaruh signifikan pada tingkat dunia. 


Di sisi lain, Islam telah memberikan predikat yang sangat mulia kepada umat ini sebagai khairu ummah atau umat terbaik. 


Allah berfirman pada QS. Ali Imran ayat 110, 


كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ 


"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." 


Predikat ini bukan tanpa syarat, melainkan terkait dengan pelaksanaan amar makruf nahi mungkar dan keimanan yang kokoh. Di sinilah muncul paradoks yang patut direnungkan. Di satu sisi, umat Islam memiliki ajaran yang sempurna dan potensi besar, baik dari jumlah, sumber daya, maupun sejarah peradaban. Namun di sisi lain, secara politik global, umat Islam sering berada dalam posisi lemah, terpecah, dan kurang berpengaruh. 


Hal ini sering disebabkan karena berbagai faktor, antara lain adalah nasional state atau batas-batas negara yang lebih dominan daripada semangat kaum muslim untuk bersatu. Selain itu, tidak adanya kepemimpinan global yang menjadikan otoritas pemersatu potensi umat sehingga permasalahan umat dapat diselesaikan dengan Islam. 


Umat Butuh Kepemimpinan Global 


Dari sini muncul kebutuhan akan upaya sistematis untuk mengembalikan kehidupan Islam tidak hanya pada level individu, tetapi juga pada level masyarakat dan negara. Salah satu analisis yang berkembang dalam pemikiran politik Islam adalah pentingnya keberadaan partai politik Islam yang ideologis dan memiliki dasar pemikiran yang sahih.


Dalam perspektif ini, partai politik Islam tidak sekadar menjadi alat perebutan kekuasaan, tetapi berfungsi sebagai wadah pembinaan umat (tatsqif) untuk membangun kesadaran politik berbasis akidah. Instrumen dakwah politik yang mengarahkan umat pada penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh (kafah). 


Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa gagasan ini harus ditempatkan dalam koridor yang konstruktif, damai, dan menghormati realitas sosial serta hukum yang berlaku. Upaya membangun kesadaran politik umat tidak boleh menimbulkan perpecahan baru, melainkan justru memperkuat persatuan dan kematangan berpikir. 


Dalam situasi seperti ini, dunia membutuhkan kepemimpinan global yang mengutamakan hukum internasional, kerja sama antarnegara, dan perdamaian. Persatuan umat di bawah kepemimpinan global seperti Khil4fah. Sebagian kalangan memandang bahwa peran partai ideologis menjadi penting sebagai penggerak perubahan opini dan kesadaran umat. Namun, jalan menuju hal tersebut tentu tidak sederhana dan memerlukan proses panjang, dialog terbuka, serta pendekatan yang bijak. 


Kemenangan Umat Makin Nyata 


Kemenangan Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada dimensi spiritual pribadi. Ia harus menjadi titik awal kebangkitan kesadaran umat, bahwa menjadi “umat terbaik” menuntut tanggung jawab besar, termasuk dalam membangun kekuatan politik yang adil, bersatu, dan berorientasi pada kemaslahatan. 


Langkah awal yang realistis harus dimulai dari hal mendasar antara lain, umat harus disadarkan akan pentingnya menuntut ilmu agama, karena Islam tidak hanya mengajarkan ibadah spiritual semata. Namun, lebih dari itu Islam membahas ekonomi, pendidikan, serta politik. Ukhuwah Islamiah kembali dikuatkan sehingga perasaan, pemikiran serta peraturan dalam hidup hanya berlandaskan Islam. 


Pada akhirnya, Idulfitri adalah cermin. Ia memantulkan sejauh mana kita berhasil berubah baik sebagai individu maupun sebagai umat. Jika kemenangan itu hanya bersifat personal tanpa kontribusi pada kebangkitan umat, maka ia belum sepenuhnya utuh. Semoga Islam bisa kembali tegak di muka bumi sehingga kemenangan umat akan makin nyata. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Idulfitri, Geopolitik Umat, Jalan Panjang Menuju Kemenangan Hakiki

Idulfitri, Geopolitik Umat, Jalan Panjang Menuju Kemenangan Hakiki



Dalam dinamika global, tidak sedikit negeri muslim 

terlibat aliansi strategis dengan kekuatan besar dunia 

__________________


Penulis Fira Nur Anindya

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dinamika geopolitik dunia Islam kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat bersama sejumlah negara Arab, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, secara terbuka mengutuk Iran atas serangan balasan yang dilancarkan ke Isra*l serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.


Dikutip dari cnbcindonesia.com, (2-3-2026) pernyataan bersama itu menyebutkan bahwa serangan Iran dianggap sebagai tindakan yang membahayakan warga sipil serta mengancam stabilitas regional.


Informasi serupa juga dimuat oleh Al Arabiya pada (3-3-26, alarabiya.net) dan kantor berita internasional AFP (2-3-26, afp.com) yang menegaskan adanya komitmen negara-negara tersebut dalam menjaga keamanan kawasan, termasuk melalui kerja sama sistem pertahanan udara dan rudal.


Fakta ini menunjukkan realitas yang cukup kompleks, sebagian negara muslim justru berada dalam satu barisan strategis dengan kekuatan global nonmuslim dalam konflik kawasan. Kondisi ini mencerminkan bahwa dunia Islam saat ini masih terfragmentasi dalam berbagai kepentingan nasional yang berbeda, bahkan dalam beberapa kasus saling berseberangan. Lebih luas lagi, kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat konflik dikenal sebagai wilayah yang sangat strategis dan kaya sumber daya berdasarkan laporan World Bank dan OPEC Annual Statistical Bulletin di tahun 2024.


Potensi ini sejatinya sangat luar biasa, tetapi pada saat yang sama fakta menunjukkan bahwa umat Islam masih terpecah dalam berbagai negara dan belum memiliki kesatuan politik yang kuat. Bahkan dalam dinamika global, tidak sedikit negeri muslim yang terlibat dalam aliansi strategis dengan kekuatan besar dunia dalam konflik yang melibatkan sesama kawasan muslim.


Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat Islam


Ramadan sejatinya bukan hanya bulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, tetapi juga bulan perjuangan. Sejarah Islam menunjukkan bahwa momentum Ramadan sering kali menjadi titik balik kemenangan umat, seperti dalam Perang Badar dan Fathu Makkah. Namun, jika dikaitkan dengan kondisi umat saat ini, perjuangan untuk meraih kemenangan hakiki yakni tegaknya kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam secara menyeluruh, masih belum terwujud. Idul Fitri yang seharusnya menjadi simbol kemenangan, pada akhirnya lebih banyak dimaknai sebagai kemenangan spiritual individual, belum sebagai kemenangan kolektif umat.


Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa umat Islam masih berada dalam kondisi terpecah-pecah. Batas-batas negara, kepentingan nasional, serta aliansi politik global sering kali membuat umat tidak berada dalam satu barisan yang utuh. Bahkan dalam beberapa situasi, terjadi kerja sama strategis dengan kekuatan nonmuslim dalam konflik yang melibatkan dunia Islam itu sendiri.


Menimbang Akar Masalah, Kesadaran, dan Arah Perjuangan


Jika dicermati lebih dalam, persoalan ini tidak hanya terletak pada kondisi eksternal, tetapi juga pada cara pandang umat dalam memaknai perjuangan itu sendiri. Kesadaran bahwa Ramadan adalah bulan perjuangan belum sepenuhnya sampai pada level kesadaran ideologis. Aktivitas keislaman masih didominasi oleh pendekatan praktis dan pragmatis, belum menyentuh aspek perubahan sistemik yang lebih mendasar.


Padahal Allah Swt. telah memberikan predikat mulia kepada umat Islam, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran: 110)


Predikat ini menunjukkan bahwa umat Islam memiliki potensi besar untuk memimpin peradaban.


Ditambah lagi dengan kekuatan sumber daya manusia, kekayaan alam, serta posisi geopolitik yang strategis, umat sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Namun, tanpa arah perjuangan yang jelas dan kesadaran kolektif yang kuat, potensi tersebut belum mampu terkonversi menjadi kekuatan nyata.


Sejatinya Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah individual, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS. An-Nahl: 89)


Rasulullah saw. juga bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Islam memiliki konsep pengaturan kehidupan yang utuh, termasuk dalam aspek kepemimpinan dan pengelolaan masyarakat.


Pentingnya Menumbuhkan Kesadaran Persatuan Umat


Konstruksi arah kebangkitan dan persatuan umat diperlukan arah yang lebih jelas dalam membangun kebangkitan umat. Pertama, dakwah perlu diarahkan untuk membangun kesadaran politik dan ideologis umat, bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem hidup yang menyeluruh (kafah). Kedua, penting untuk menumbuhkan kesadaran akan urgensi persatuan umat dalam satu kepemimpinan yang mampu menyatukan potensi yang ada. Persatuan ini bukan sekadar simbolik, tetapi bersifat nyata dan terstruktur.


Ketiga, Ramadan dan Idulfitri semestinya menjadi titik awal untuk mengonsolidasi kekuatan umat, baik dari sisi pemikiran, gerakan, maupun arah perjuangan agar lebih terarah dan berkelanjutan.


Dalam konteks saat ini, masyarakat tetap memiliki peran penting dalam proses perubahan, di antaranya memperdalam pemahaman Islam secara menyeluruh, tidak parsial, aktif dalam kajian dan diskusi yang membangun kesadaran umat, menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan dengan cara yang bijak, santun, dan relevan. Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran dan usaha yang konsisten.


Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11)


Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebangkitan umat dimulai dari perubahan pola pikir, lalu berkembang menjadi gerakan kolektif yang terarah.


Idulfitri bukanlah akhir dari perjalanan Ramadan, melainkan awal dari fase baru dalam kehidupan umat. Momentum ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai pemicu kebangkitan yang lebih luas. Melalui kesadaran, ilmu, dan usaha yang berkelanjutan, harapan untuk meraih kemenangan hakiki umat tetap terbuka. Perjalanan ini memang panjang, namun bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Kepanikan Membeli BBM dan Desakan Mewujudkan Kedaulatan Energi

Kepanikan Membeli BBM dan Desakan Mewujudkan Kedaulatan Energi




Kedaulatan energi menjadi faktor penting

untuk stabilitas politik ekonomi suatu negara


__________________


Penulis Siti Hanifah

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Isra*l memicu kepanikan luar biasa di sejumlah negara dunia, tidak terkecuali Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia seperti Medan, antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Kota Medan, Sumatra Utara, Jumat  (Kompas.id, 6-3-2026)


Hal ini memicu lonjakan harga minyak dunia. Kemudian berbagai isu miring tentang minyak dunia yang makin menipis akibat perang dunia membuat masyarakat berbondong-bondong membeli minyak dengan dirigen besar. 


Namun, hal ini di tepis melalui pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, "Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu," kata Bahlil di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Jumat.

 

Beliau meyakinkan masyarakat untuk tidak panic buying dengan adanya peperangan di Timur Tengah, "Jadi Insya Allah sekalipun terjadi peperangan di Timur Tengah, kondisi kita aman. Sekali lagi saya katakan aman," tuturnya. (Detiknews, 6-3-2026)


Seperti yang kita ketahui bahwa Iran merupakan negara pemasok minyak terbesar ke-3 di dunia. Adanya Perang AS-Isra*l vs Iran mengancam pasokan minyak dunia yang berakibat kepanikan di tengah masyarakat. BBM merupakan komoditas strategis, apabila ketersediaan BBM terbatas akan memengaruhi gerak ekonomi, sosial, dan politik nasional.


Selain itu, akan terjadi lonjakan dimana-mana. Lebih parahnya menyebabkan banyak ketimpangan apabila pasokan BBM berkurang. Kedaulatan energi menjadi faktor penting untuk stabilitas politik ekonomi suatu negara. Hal wajar apabila masyarakat mengalami ketakutan atau panic buying dengan adanya peperangan di Timur Tengah. 


Hal ini penyebabnya adalah kapitalisme global yang mengeksploitasi sumber daya alam negeri-negeri muslim yang lemah dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dan menciptakan ketergantungan kepada negara adidaya. Indonesia merupakan negara yang amat kaya, bahkan sebetulnya Indonesia sendiri bisa menjadi negara yang mandiri.


Namun, kita lihat di berbagai wilayah di Indonesia eksploitasi alam begitu jelas terpampang nyata. Contohnya kasus banjir Aceh yang belum juga pulih sampai hari ini, yang disinyalir akibat eksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat.


 Islam Mengatur Pengelolaan Energi


Saat ini, kedaulatan energi dikuasai oleh negara-negara adidaya dan dipakai sebagai alat penjajahan untuk negara-negara yang lemah. Dalam pandangan Islam, kedaulatan energi tidak boleh dikuasai oleh individu atau suatu perusahaan swasta. Energi dalam pandangan Islam harus diatur oleh negara.


Karena sumber daya alam yang tidak akan pernah habis. Apabila dikuasai oleh individu akan menyebabkan banyak masalah ketimpangan seperti hari ini. Sebagaimana hadis yang disampaikan Rasulullah saw.: "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud)


Kebijakan politik Islam dalam mengelola sumber daya alam termasuk tambang, segala sesuatu yang menjadi milik umum disediakan untuk dipergunakan oleh siapa pun. Akan tetapi, tidak diperbolehkan untuk dikuasai secara individu atau swasta. Begitu pun pengelolaan sumber daya milik umum dalam skala besar oleh negara. 


Negeri-negeri muslim di dunia seperti Arab, Iran, Brunei, Indonesia, Allah berkahi dengan berkelimpahan sumber daya alam, khususnya minyak bumi. Dengan hal ini, seharusnya negeri-negeri muslim tidak harus berpangku tangan dengan penjajah. Mereka bisa untuk mengelola sendiri sumber daya alam yang ada tanpa ketergantungan atau pemaksaan dari negara-negara adidaya.


Searusnya mereka yang lemah karena tanpa negeri-negeri muslim mereka tidak berdaya. Negeri-negeri muslim bisa untuk sejahtera tanpa campur tangan negera adidaya. Kapitalisme global sudah rusak tatanan kehidupan.Tidak peduli dengan dampak yang akan terjadi. 


Allah sendiri sudah memperingati manusia: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)


Sebagaimana ikan yang tidak bisa hidup di dalam air. Begitu pun manusia tidak bisa hidup di dalam sistem yang rusak juga tidak sesuai fitrahnya manusia, yaitu sistem kapitalisme. Penjajahan kapitalisme global yang mengeruk kekayaan negeri-negeri Islam harus diberhentikan dengan menegakkan kembali sistem Islam. Hanya dengan Islam sumber daya alam dapat terkelola dengan amanah sesuai aturan yang telah Allah berikan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]



Eid Mubarak Diwarnai Utang yang Marak

Eid Mubarak Diwarnai Utang yang Marak

 



Sistem Islam mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan

sehingga memberi solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

_____________________________


Penulis Siska Juliana

Tim Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bulan Ramadan dan Idulfitri merupakan momen istimewa bagi setiap umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak persiapan yang dilakukan dalam menyambut Idulfitri baik itu moril dan materiil. Namun, di tengah kesempitan ekonomi yang melanda masyarakat, banyak di antara mereka yang memaksakan kehendak dalam mempersiapkan Lebaran sehingga terlilit utang. 


Di Indonesia terdapat berbagai macam ritual menjelang Lebaran di antaranya mudik dan berbagi THR. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan untuk saat ini sebab kondisi ekonomi yang tidak stabil. 


Pada Februari 2026 inflasi tahunan mencapai 4,76 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah per 10 Maret 2026 menyentuh level Rp16.879 per dolar AS. Hal ini merupakan sinyal bahwa biaya hidup makin meningkat, sementara ketahanan ekonomi negara makin menurun. (inilah.com, 14-03-2026)


Sinyal bahaya ini ditandai dengan harga pangan naik, ongkos mudik tetap berat, THR makin menyusut akibat potongan pajak, bansos tidak merata, dan kelas menengah makin bergantung pada utang jangka pendek untuk menutupi kekurangan pengeluaran.


Melonjaknya Utang 


Berdasarkan data terjadi peningkatan yang signifikan pada utang masyarakat Indonesia, baik melalui pinjaman online (pinjol), paylater, maupun pegadaian menjelang Lebaran. Utang pinjol warga Indonesia menembus angka lebih dari Rp80-Rp87 triliun di tahun 2025. Selain itu, utang paylater mencapai Rp32 triliun di pertengahan 2025. 


Pinjaman di pegadaian juga mengalami kenaikan sekitar 15 persen selama Ramadan serta jelang Lebaran karena kebutuhan tunai yang tinggi. Fenomena ini sering disebut cash is the king yang mengakibatkan tingginya permintaan uang tunai untuk kebutuhan belanja dan THR. Tren kenaikan utang ini dipicu oleh beberapa faktor antara lain kebutuhan konsumtif, biaya mudik, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. 


Kapitalisme Menyuburkan Riba 


Adanya peningkatan aktivitas utang ke pinjol, paylater, dan pegadaian merupakan hal yang kontradiktif dengan kesucian bulan Ramadan. Seharusnya momen Ramadan diisi dengan ketaatan kepada Allah, bukan malah melakukan aktivitas ribawi yang jelas diharamkan. 


Saat ini, riba merajalela karena sistem kapitalisme menjadikannya sebagai pilar. Alhasil, mayoritas transaksi di dalam kapitalisme mengandung riba. Dampaknya terjadi kerusakan luar biasa, baik yang menimpa individu maupun masyarakat. 


Di sisi lain, kapitalisme melahirkan kehidupan bebas tanpa batas karena tidak melibatkan agama untuk mengatur kehidupan. Setiap individu dikendalikan oleh hawa nafsunya. Cara pandang dalam memahami kehidupan adalah untuk meraih materi sebesar-besarnya. Tidak mengherankan jika untuk memenuhi gaya hidup rela melakukan segala cara, termasuk menempuh jalan ribawi. 


Bagaimana harta kita bisa berkah jika masih terlibat riba? Oleh karena itu, kita butuh solusi yang menyeluruh dalam menyelesaikan permasalahan ini. 


Islam Memberi Solusi


Saat Islam melarang riba, Islam juga memberikan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan. 


Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 275, 


“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”


Sistem Islam mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan sehingga memberi solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Arti menyejahterakan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi tiap individu, serta mewujudkan kemampuan memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier.


Selain itu, masyarakat dalam sistem Islam yaitu Khil4fah melalui sistem pendidikan yang berdasarkan akidah Islam mendapatkan edukasi sehingga bergaya hidup zuhud dan tidak berlebih-lebihan. Momen Ramadan dan Idulfitri akan disambut dengan memperbanyak amal saleh, bukan justru konsumtif sehingga pengeluaran rumah tangga meningkat. 


Adapun tradisi mudik akan difasilitasi dengan transportasi publik yang terintegrasi antara satu moda dengan yang lainnya sehingga memudahkan masyarakat untuk silaturahmi tanpa harus membeli kendaraan baru atau mengeluarkan ongkos yang besar. Sedangkan kebutuhan modal usaha untuk UMKM akan dipenuhi dengan sistem pinjaman nonribawi atau bahkan hibah dari Baitulmal. 


Khatimah 


Demikianlah solusi Islam agar masyarakat terhindar dari praktik riba. Alhasil, Allah Swt. akan mencurahkan keberkahan bagi umat Islam. Kebutuhan masyarakat akan terpenuhi dengan baik dan para pengusaha bisa berbisnis dengan tenang. Inilah gambaran keindahan hidup di bawah naungan Khil4fah. Wallahualam bissawab.

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat




Idul Fitri ini tidak hanya mengembalikan kita kepada fitrah secara individu

tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif untuk memperjuangkan persatuan umat dan meraih kemenangan yang hakiki


__________________


Penulis Verawati, S.Pd.

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia menandakan datangnya hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Hari yang dinanti oleh umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa selama kurang lebih satu bulan penuh di bulan Ramadan.


Idul Fitri sejatinya adalah momentum kemenangan, bukan sekadar kembali kepada fitrah secara individu. Akan tetapi, juga kemenangan spiritual yang seharusnya berdampak pada kehidupan umat secara kolektif.


Namun, perayaan Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Di tengah suasana bahagia, terselip rasa sedih dan keprihatinan. Pasalnya, umat Islam merayakan Idul Fitri tidak secara serempak. Ada yang berhari raya pada Kamis, Jumat, bahkan Sabtu. Perbedaan ini kembali memunculkan pertanyaan klasik: Mengapa sesama umat Islam bisa berbeda dalam menetapkan hari besar yang sama?


Perbedaan dalam penetapan Idul Fitri sejatinya bukan sekadar persoalan teknis hisab dan rukyat, melainkan mencerminkan kondisi umat Islam yang belum memiliki satu kepemimpinan yang mempersatukan. Fakta ini seharusnya menjadi bahan renungan bersama.


Lebih dari itu, perpecahan tidak hanya terjadi dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam sikap politik internasional. Kita menyaksikan bagaimana negeri-negeri muslim tidak memiliki satu suara dalam merespons konflik global, khususnya yang melibatkan negeri-negeri muslim seperti P4lestina dan Iran.


Sebagian negara bahkan cenderung berpihak kepada kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Isra*l. Dilansir oleh media CNBC Indonesia (02-03-2026), Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada hari Minggu mengutuk Iran. Hal ini terjadi saat Teheran melancarkan serangkaian serangan balas dendam terhadap Israel dan AS yang menyerangnya pada Sabtu. Selain Tel Aviv, Iran juga menyerang negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS sebagai tanggapan. Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di dalamnya.


Hal ini makin memperlihatkan lemahnya posisi umat Islam di kancah global. Alih-alih bersatu menghadapi musuh bersama, justru terjadi konflik dan ketegangan di antara sesama negeri muslim.


Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan gambaran ideal umat Islam sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: "Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa umat Islam seharusnya memiliki rasa persatuan dan solidaritas yang kuat. Namun, realitas hari ini menunjukkan sebaliknya.


Allah Swt. juga berfirman: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103)


Ayat ini menjadi perintah tegas bagi umat Islam untuk bersatu dan meninggalkan perpecahan. Sayangnya, persatuan tersebut hingga kini belum terwujud secara nyata dalam kehidupan umat.


Akibatnya, kebahagiaan Idul Fitri terasa belum sempurna. Kemenangan yang dirasakan seolah menjadi semu. Karena kemenangan hakiki umat Islam yakni persatuan dalam satu kepemimpinan dan terbebas dari dominasi serta penjajahan asing belum terwujud.


Dalam konteks ini, pekerjaan besar umat Islam hari ini adalah mewujudkan kembali persatuan tersebut, yakni adanya kepemimpinan global umat Islam yang mampu menyatukan visi dan langkah, sebagaimana yang pernah ada dalam sejarah peradaban Islam.


Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa yang mati dan di lehernya tidak ada baiat (kepada pemimpin), maka ia mati dalam keadaan jahiliah." (HR. Muslim)


Hadis ini menunjukkan wajibnya bagi umat Islam untuk mengangkat seorang pemimpin. Pemimpin yang akan menegakkan dan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh bagi kaum muslim di seluruh dunia. Kepemimpinan ini bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga kebutuhan mendasar untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan, khususnya umat Islam dan dunia.


Arogansi Barat khususnya Amerika Serikat yang membawa ide kapitalisme, telah banyak menimbulkan penderitaan di dunia. Tidak hanya umat Islam, dunia pun diliputi ketakutan, penderitaan, kerusakan, dan kehancuran di berbagai aspek kehidupan. Maka Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin diyakini mampu menjawab berbagai persoalan tersebut, sebagaimana Islam pernah memimpin dunia selama berabad-abad.


Ramadan yang telah kita lalui sejatinya adalah madrasah ruhiah yang membentuk ketakwaan. Ketakwaan inilah yang seharusnya mendorong umat Islam untuk tidak hanya memperbaiki diri secara individu, tetapi juga peduli terhadap kondisi umat secara keseluruhan.


Kesadaran bahwa kaum muslim adalah satu saudara merupakan modal awal untuk meraih kemenangan hakiki. Allah Swt. menegaskan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..." (QS. Al-Hujurat: 10)


Oleh karena itu, arah perjuangan umat Islam hari ini tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga harus menyentuh aspek persatuan dan kepemimpinan umat. Perlu ada upaya serius dan berkelanjutan untuk menyatukan umat dalam satu visi besar: Meraih kemuliaan Islam dan kaum muslim.


Idul Fitri hendaknya tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum muhasabah, introspeksi mendalam atas kondisi umat. Sudah sejauh mana kita berkontribusi bagi kebangkitan Islam? Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi, atau justru masih menjadi penonton dari berbagai problematika umat?


Semoga Idul Fitri ini tidak hanya mengembalikan kita kepada fitrah secara individu, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif untuk memperjuangkan persatuan umat dan meraih kemenangan yang hakiki. Wallahualam bissawab [Dara/MKC]