Nakba 78 Tahun: Gagalnya Sistem Dunia Hari Ini
Surat PembacaBerlanjutnya penjajahan P4lestina menunjukkan
rusaknya sistem kapitalisme sekuler yang saat ini menguasai dunia
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Nakba dan Runtuhnya Perisai Umat
Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 78 tahun Nakba P4lestina, Sektor Liga Arab untuk P4lestina dan wilayah Arab yang diduduki menekankan perlunya mengakhiri ketidakadilan historis terhadap rakyat P4lestina dan melanjutkan upaya internasional untuk mengakhiri pendudukan Isra*l atas wilayah yang diduduki sejak 1967.
Ditegaskan juga bahwa penting untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya sesuai dengan solusi dua negara, hukum internasional, dan inisiatif perdamaian Arab. (m.antaranews.com, 15-05-2026)
P4lestina Menanti Kebangkitan Islam
Tujuh puluh delapan tahun sudah P4lestina dijajah sejak tragedi Nakba 15 Mei 1948. Tanah kaum muslim dirampas, rakyatnya diusir, rumah-rumah dihancurkan, dan darah terus ditumpahkan tanpa henti. Hingga hari ini, G4za masih dibombardir, Masjid Al-Aqsa terus dinodai, sementara dunia hanya mempertontonkan diplomasi kosong tanpa keberanian menghentikan kejahatan Zion*s Yahudi.
Berbagai forum internasional menyerukan perlindungan bagi P4lestina dan mendesak gencatan senjata. Namun, semua itu tidak pernah benar-benar menghentikan penjajahan. Sesungguhnya tragedi P4lestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan potret nyata pertarungan ideologi antara Islam dan sistem kufur kapitalisme global yang menopang eksistensi penjajahan Zion*s.
P4lestina hari ini menjadi bukti bahwa dunia internasional dibangun bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi menjaga kepentingan negara-negara kuat meski harus mengorbankan jutaan nyawa kaum lemah.
Allah Swt. berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka.” (QS Al-Baqarah: 120)
Ayat ini menegaskan bahwa permusuhan terhadap Islam bukan persoalan insidental, melainkan bagian dari pertarungan peradaban yang terus berlangsung sepanjang sejarah.
Kapitalisme, Nasionalisme, dan Akar Lemahnya Umat
Berlanjutnya penjajahan P4lestina menunjukkan rusaknya sistem kapitalisme sekuler yang saat ini menguasai dunia. Sistem ini menjadikan manfaat materi sebagai standar utama, sehingga nilai kemanusiaan hanya berlaku jika menguntungkan kepentingan politik dan ekonomi mereka. Karena itu, ketika ribuan rakyat P4lestina dibantai, dunia hanya sibuk membuat resolusi tanpa tindakan nyata.
Lebih tragis lagi, umat Islam hari ini tercerai-berai dalam sekat nasionalisme. Negeri-negeri muslim dipisahkan oleh batas negara bangsa warisan kolonialisme sehingga kehilangan kekuatan politik globalnya. Padahal dahulu umat Islam adalah satu kesatuan politik yang disegani dunia. Ketika satu wilayah kaum muslimin diserang, seluruh kekuatan umat bergerak membelanya.
Rasulullah saw. bersabda: “Imam (khalifah) itu adalah perisai, tempat kaum muslimin berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan kepemimpinan Islam bukan sekadar simbol spiritual, melainkan institusi politik yang menjaga keamanan, kehormatan, dan persatuan umat. Ketika institusi itu runtuh, umat kehilangan pelindungnya. P4lestina pun menjadi korban paling nyata dari hilangnya perisai umat tersebut.
Hari ini, kaum muslim memiliki jumlah besar, kekayaan alam melimpah, dan posisi geografis strategis. Namun, semua itu tidak bernilai karena tercerai-berai dalam loyalitas nasionalisme dan tunduk pada hegemoni Barat. Akibatnya, negeri-negeri muslim lebih takut kepada tekanan politik dunia dibanding menjalankan kewajiban membela saudara seiman.
P4lestina Tidak Akan Merdeka dengan Diplomasi Kufur
Harapan kepada PBB, Liga Arab, atau negara-negara adidaya hanya ilusi panjang yang terus dipelihara. Selama sistem internasional tetap berada di bawah dominasi kapitalisme, P4lestina tidak akan benar-benar merdeka. Sebab penjajahan Zion*s justru dijaga oleh kekuatan besar dunia melalui dukungan militer, ekonomi, media, dan politik.
Karena itu, pembebasan P4lestina tidak cukup dengan bantuan kemanusiaan, doa tanpa arah perjuangan, atau sekadar aksi solidaritas sesaat. Pembebasan P4lestina harus menjadi bagian dari proyek besar kebangkitan Islam kafah melalui tegaknya kepemimpinan Islam yang menyatukan umat dalam satu visi perjuangan.
Allah Swt. berfirman: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi… (QS An-Nur: 55)
Ayat ini adalah janji politik sekaligus kabar gembira bahwa kekuasaan Islam bukan utopia. Ia adalah janji Allah bagi umat yang beriman dan berjuang menegakkan syariat-Nya secara menyeluruh.
Adapun agenda perjuangan hari ini adalah membangun kesadaran ideologis umat bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang memiliki aturan politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga strategi pertahanan. Umat harus disadarkan bahwa tanpa persatuan politik Islam, P4lestina akan terus menjadi korban kerakusan penjajah.
P4lestina bukan hanya tanah yang dijajah. P4lestina adalah simbol kehormatan umat Islam. Selama Al-Aqsa masih menangis di bawah penjajahan, sejatinya itu adalah alarm bahwa umat ini belum kembali hidup di bawah naungan Islam yang hakiki. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Evi Faouziah S.Pd











