Sekularisme Mengikis Peran Strategis Santri
OpiniTujuan mulia pesantren dan jati diri santri sebagai penerus perjuangan Islam akan terwujud
jika negara menerapkan sistem dan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan pandangan Islam
_____________________
Penulis Tiktik Maysaroh
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan hari santri tahun 2026 digelar diberbagai daerah. Di Kabupaten Bandung, peringatan hari santri digelar di lapangan Upakarti Soreang dan dihadiri langsung oleh bupati bandung Dadang Supriatna.
Dalam pidatonya Dadang menyampaikan bahwa santri tidak hanya memiliki peran dalam bidang keagamaan, tetapi juga berpeluang menjadi pemimpin, pengusaha, aparat negara, hingga profesional diberbagai sektor.
Dadang menilai sekitar 160.000 santri di kabupaten Bandung memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin masa depan dan berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional yang harus ditopang dengan peningkatan kapasitas diri agar santri mampu bersaing dan berkiprah di berbagai bidang. (Radarbandung.id, 22-10-2026)
Maka dari itu, bupati Dadang Supriatna memberikan dukungan dan dorongan kepada para santri untuk berani tampil mengembangkan potensi dan mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Peran ini sesuai dengan peran perjuangan para pendahulu yang telah berjuang tanpa kenal lelah demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. (Gerbangpatriot.com, 22-10-2026)
Selain itu, pada moment peringatan hari santri nasional bupati bandung Dadang Supriatna memberi penghargaan kepada BAZNAS sebagai bentuk apresiasi terhadap peran BAZNAS dalam menjalankan tugas dan kontribusinya bagi masyarakat khususnya melalui pengelolaan zakat, infak dan sedekah (ZIS). (Kabbandung.baznas.go.id, 22-10-2026)
Seruan dan harapan KDS serta penghargaan yang diberikan kepada salah satu lembaga umat patut diapresiasi. Tetapi, kondisi bangsa hingga saat ini pada dasarnya masih berada dalam kondisi terjajah di dalam jeratan simpul-simpul kapitalisme.
Kita ketahui, hari santri berakar dari perjuangan bangsa dalam melepaskan diri dari penjajahan melalui gema jihad yang dicetuskan oleh hadraatussyaikh Hasyim Asy'ari demi melawan bangsa penjajah kala itu. Namun saat ini, berbagai permasalahan dan beragam tantangan dihadapi oleh para santri yang menyebabkan hilangnya identitas hakiki santri itu sendiri. Diantaranya pemberdayaan ekonomi pesantren yang mendegradasi peran strategis pesantren sebagai lumbung calon ulama masa depan
Kebijakan pemberdayaan ekonomi pesantren yang diterapkan seperti OPOP (One Pesantren One Product) dengan tujuan melakukan perbaikan ekonomi dan kemiskinan adalah merupakan bentuk pembajakan potensi pesantren dan santri dalam menyelesaikan problem ekonomi negara yang tentunya akan mengalihkan fokus dan perhatian pesantren dalam mencetak kader dan umat terbaik. Kebijakan ini jelas menjadi upaya untuk melemahkan peran pesantren dan peran strategis santri yang seharusnya menjadi basic perjuangan melawan neoimperialisme.
Hari Santri Nasional seharusnya menjadi momen melakukan perbaikan dan perubahan kualitas santri. Sayangnya, peringatan hari santri nasional dari tahun ke tahun belum memberikan perubahan signifikan untuk memperbaiki generasi.
Di samping itu, hari ini santri diberdayakan untuk turut menderaskan moderasi beragama yang memiliki pemikiran moderat juga mampu merubah pandangan hidup yang sesuai dengan keinginan barat yaitu memisahkan agama dari kehidupan yang pada akhirnya menerima ide dan pemikiran barat seperti kapitalisme, sekularisme, pluralisme, hedonisme, liberalisme, sinkretisme dan lain sebagainya.
Ide-ide dan pemikiran barat tersebut nyata telah menghilangkan identitas hakiki santri sebagai hamba Allah sekaligus meredam spirit resolusi jihad para santri dalam memperjuangkan Islam. Alhasil, spirit resolusi jihad hanya mencukupkan santri berdaya dalam aspek materi dan berakhlak mulia dalam batas ibadah ritual semata, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
Pengarusan moderasi Islam meyakini bahwa Islam sebagai agama yang dapat dikompromikan dengan nilai dan pemikiran dari luar Islam. Akibatnya, generasi bisa kehilangan arah dan jati dirinya. Padahal sebagai muslim kafah segarusnya tunduk dan taat pada aturan Allah Taala semata.
Permasalah disekitar pesantren semakin komplit dengan masifnya kriminalitas yang terjadi di lingkungan pesantren seperti perundungan, kekerasan seksual, pelecehan seksual dan sebagainya. Semua ini, menjadi bukti bahwa sekularisme telah menjadi racun mematikan bagi generasi, termasuk santri yang notabene mereka hidup di lingkungan pendidikan yang banyak mengajarkan nilai-nilai Islam. Alhasil, Ilmu yang dikaji di dalamnya belum berhasil membentuk kepribadian Islam.
Semua yang terjadi disebabkan negara lepas tangan dalam mengurus pendidikan. Negara hanya berfungsi sebagai regulator untuk kepentingan para kepitalis. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki tak bisa dirasakan oleh masyarakat, bahkan berbagai aset strategis diperjualbelikan atas nama kebebasan kepemilikan dan liberalisasi pasar. Semua ini, karena bercokolnya sistem demokrasi kapitalisme neoliberal yang diterapkan hari ini.
Oleh karena itu, santri harus kembali pada jati diri yang sesungguhnya yaitu sebagai hamba Allah yang taat dan generasi penerus yang memperjuangkan bangkitnya peradaban Islam. Bukan menjadi penyambung lidah pemikiran moderat sekuler dan pembela sistem demokrasi kapitalisme.
Santri juga tidak boleh terjebak dengan proyek-proyek Barat yang melemahkan pemahaman Islam yang benar. Santri harus berdaya di tempat dan habitat yang sebenarnya, yakni generasi ulama penjaga kemuliaan Islam dan ilmuwan masa depan perintis peradaban gemilang.
Tujuan hakiki lembaga pendidikan Islam adalah mencetak kader ulama fakih fiddin, pewaris Nabi, memiliki akhlak dan kepribadian Islam yang khas, memahami Islam secara gamblang dan menyeluruh, menyebarluaskan Islam dengan dakwah, mencerdaskan masyarakat dengan akidah Islam yang sahih, dan membentuk ilmuwan yang unggul dalam sains dan teknologi.
Maka dari itu, keberadaan pesantren sangat dibutuhkan oleh umat karena output yang dihasilkan akan membentuk generasi yang beriman dan bertakwa karena tsaqafah yang didapatkan berasal dari tsaqafah Islam. Para santri akan senantiasa dibina dan dididik dengan nilai dan ajaran syariat.
Karena itu, tujuan mulia pesantren dan jati diri santri sebagai penerus perjuangan Islam akan terwujud jika negara menerapkan sistem dan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan pandangan Islam. Begitupun negara akan memfasilitasi keberlangsungan pesantren dalam berbagai aspek, di antaranya menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, memberi fasilitas pendidikan yang memadai, menggaji guru dengan layak, bahkan negara dapat membebaskan biaya pendidikan bagi para santri yang menimba ilmu di pesantren.
Negara dalam sistem Islam memiliki peran besar untuk menjaga keberlangsungan pesantren dan menjaga visi misi pesantren agar kemuliaan dan kemurnian ajaran Islam terjaga. Inilah peran pesantren dalam mewujudkan santri berkepribadian Islam kafah yang kelak membangun peradaban Islam yang cemerlang.
Firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 110, yang artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Demikianlah, tatkala dunia pendidikan umum maupun pesantren murni berlandaskan akidah Islam dibawah naungan sistem Islam, maka pendidikan mampu melahirkan para generasi pemimpin perubahan dan melahirkan ulama bahkan hingga tingkat mujtahid. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]











