Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi Muhammad saw.
OpiniSaatnya mengambil ibrah dari peringatan Maulid Nabi
adalah menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan
_________________
Penulis Melta Vatmala Sari S.E
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Setiap tahun umat Islam di seluruh dunia merayakan Maulid Nabi, maulid artinya kelahiran. Berbagai bentuk perayaan yang dilakukan oleh umat Islam dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. yaitu berupa tabligh akbar, muhadharah dengan cara shalawatan dan pawai obor.
Namun, sangat disayangkan apabila peringatan Maulid Nabi hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial semata. Padahal, esensi Maulid Nabi adalah menjadikannya sebagai momentum untuk mengenal, menghayati, dan meneladani kehidupan Rasulullah saw. sebagai teladan terbaik bagi umat sepanjang zaman.
Kelahiran Rasulullah saw. sejatinya menjadi tanda hadirnya sosok yang diutus Allah Swt. untuk membawa rahmat bagi seluruh makhluk.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 107, yang artinya: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme saat ini mengajarkan bahwa Maulid Nabi itu hanya sekedar mengingatkan dan mencontohkan dalam akhlak dan ibadah Rasulullah Saw. saja, tidak diajarkan dalam perjuangan dakwah dan dalam penegakkan sebuah daulah seperti diberitakan dalam sebuah acara Maulid Nabi dijakarta seorang narasumber mengatakan: “Bulan Maulid tidak hanya menjadi waktu untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad saw., tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali memperkuat rasa cinta kepada Rasulullah. Melalui momentum ini, umat Islam diharapkan dapat lebih mengenal kepribadian dan akhlak beliau serta menerapkannya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Akmaludin. (rri.co.id)
Pembahasan tentang ittiba’ kepada Nabi ï·º dalam momentum Maulid masih sering terbatas pada keteladanan akhlak. Padahal, semestinya juga diarahkan pada kesadaran untuk meninggalkan sistem jahiliyah yang berlandaskan penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu, menuju kehidupan yang menjadikan penghambaan hanya kepada Allah sebagai landasan.
Keinginan untuk melakukan perubahan sejatinya telah tumbuh di tengah umat Islam. Namun, arah perubahan dan metode yang ditempuh masih belum sepenuhnya mengikuti metode perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ï·º.
Keteladanan Perjuangan Rasulullah saw.
Sosok Nabi Muhammad saw. merupakan figur yang begitu dicintai dan dirindukan oleh umat Islam. Keteladanan beliau tidak hanya tercermin dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial, politik, dan kepemimpinan. Sayangnya, sebagian umat hanya mengambil teladan dari sisi ibadah, sementara peran dan kepemimpinan politik Rasulullah saw. kerap terabaikan. Padahal, beliau adalah teladan paripurna dalam berbagai aspek kehidupan. Kepemimpinan Rasulullah saw. yang mencakup ranah spiritual, sosial, hingga politik semestinya menjadi inspirasi dan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan saat ini.
Maulid kerap dipersempit menjadi sekadar ungkapan kecintaan kepada Rasulullah ï·º, tanpa diikuti konsekuensi dalam memahami dan memperjuangkan risalah yang beliau bawa. Padahal, kecintaan kepada Rasulullah ï·º semestinya diwujudkan melalui keterikatan terhadap ajaran, risalah, serta perjuangan beliau.
Di sisi lain, umat Islam sering kali kurang menyadari bahwa bentuk penghambaan kepada selain Allah masih dapat berlangsung secara sistemik melalui penerapan demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan kepentingan duniawi serta hawa nafsu sebagai orientasi kehidupan.
Dalam upaya mempertahankan keberlangsungannya, sistem kapitalisme akan terus menghadapi dan membendung berbagai gagasan kebangkitan umat Islam yang menyerukan perubahan terhadap sistem yang ada. Sistem kapitalisme selalu berusaha menggagalkan umat Islam dengan cara memengaruhi pemikiran umat Islam dengan memberikan hadharah baru untuk kepentingan pribadi dengan asas kemanfaatan. Dengan cara itu umat Islam bisa lupa dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Maulid Nabi itu mengenang perjuangan Rasulullah dalam dakwah politik, ekonomi, sosial dan ibadah. Yang sangat perlu kita ketahui yaitu dalam kepemimpinan sebab umat belum seluruhnya mengetahui metode kepemimpinan Rasulullah saw,. Pada masa Rasulullah beliau pernah menaklukkan negara Mekah, dan sebagian Romawi, bahkan menjadi pemimpin di Madinah.
Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., Madinah berkembang menjadi sebuah negara yang menjunjung tinggi keadilan. Umat Islam dan pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Melalui Piagam Madinah, Rasulullah saw. menetapkan aturan kehidupan bersama yang menjamin perlindungan hak bagi seluruh penduduk, baik muslim maupun non-muslim. Keharmonisan dan keadilan tersebut terwujud melalui penerapan syariat Islam secara menyeluruh, bukan melalui kompromi ataupun moderasi yang mengesampingkan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Nilai- Nilai Uswatun Hasanah Rasulullah saw.
Keberhasilan Rasulullah saw. dalam menjalani kehidupan merupakan teladan yang luar biasa, baik sebelum beliau diangkat sebagai rasul maupun setelah menerima risalah. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Keteguhan, kesabaran, serta kegigihan beliau dalam berjuang menjadi salah satu kunci tercapainya keberhasilan yang gemilang. Setiap perjalanan hidup beliau senantiasa diwarnai dengan perjuangan dan usaha yang penuh keteguhan.
Rasulullah dikatakan suri tauladan yang baik adalah beliau pernah dilempari batu, kotoran dihina diejek dalam dakwahnya. Pernah juga diremehkan dalam peperangan saat memperjuangkan kebenaran dimuka bumi ini. Dengan demikian, beliau tidak hanya mencontohkan akhlak, tetapi dalam bentuk segi apapun itu bukan hanya sekedar ibadah tetapi sebagainya kewajiban sebagai hamba Allah dalam menjalani kehidupan dimuka bumi ini yang wajib diterapkan dibumi Allah.
Rasulullah saw. telah memberikan teladan dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dan mengubah pola pikir umat agar nilai tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan. Dalam kitab Nizhamul Islam, nilai yang mendasari suatu perbuatan disebut qimatul amal. Qimatul amal terbagi menjadi empat macam, yaitu:
1. Qimatul Madiyah (Nilai Material)
Qimatul madiyah merupakan nilai yang menjadi dasar suatu perbuatan dengan orientasi memperoleh manfaat atau keuntungan yang bersifat materi. Contohnya adalah melakukan kegiatan perdagangan, bekerja untuk memperoleh penghasilan, maupun bertani untuk mendapatkan keuntungan.
2. Qimatul Ruhiyah (Nilai Spiritual/Ibadah)
Qimatul ruhiyah adalah nilai yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Perbuatan tersebut dilakukan sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Contohnya melaksanakan shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta menjauhi kemaksiatan karena mengharap rida dan takut kepada Allah Swt..
3. Qimatul Khuluqiyyah (Nilai Akhlak)
Qimatul khuluqiyyah merupakan nilai yang mendorong seseorang melakukan perbuatan berdasarkan dorongan akhlak dan moral yang baik. Contohnya adalah berkata jujur meskipun dapat merugikan diri sendiri, menepati janji, serta menjaga amanah yang diberikan kepadanya.
4. Qimah Insaniyah (Nilai Kemanusiaan)
Qimah insaniyah adalah nilai yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan berdasarkan rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. Contohnya antara lain menolong orang yang sedang mengalami kesulitan, membantu korban bencana, serta memberikan bantuan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.
Saat ini, kondisi umat Islam menghadapi berbagai tantangan yang serius. Para pemimpin di banyak negeri justru cenderung memisahkan agama dari kehidupan bernegara. Bahkan, terdapat kebijakan yang membuat kepentingan umat bergantung pada pengaruh pihak asing. Di sisi lain, sumber daya alam yang semestinya dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat justru banyak dikuasai oleh pihak swasta maupun asing, sehingga kesenjangan dan persoalan kesejahteraan masih terus dirasakan oleh masyarakat, na’udzubillah min dzalik.
Mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi ï·º, bukan sekadar ritual.
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali-Imran ayat, 31)
Saatnya mengambil ibrah dari peringatan Maulid Nabi adalah menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Dengannya, akan membawa keberkahan dan keberuntungan bagi seluruh alam semesta. Wallahualam bissawab.[EA/MKC]











