Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat G4za
OpiniSituasi ini membuat wacana demiliterisasi terasa tidak seimbang
bahkan cenderung melemahkan pihak yang selama ini berusaha mempertahankan diri
_________________________
Penulis Murni Sari S.AB, M.M
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Dosen Politeknik Baubau
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Derita rakyat G4za belum juga berakhir. Di tengah bangunan yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, dan suara sirene yang tak pernah benar-benar berhenti, muncul kembali wacana demiliterisasi.
Pelucutan senjata terhadap H4mas digadang-gadang sebagai jalan menuju perdamaian. Namun, di balik wacana tersebut, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan: apakah demiliterisasi benar-benar membawa kedamaian, atau justru membungkam perlawanan rakyat yang selama ini bertahan di tengah penjajahan?
Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Isra*l
BoP mendesak H4mas untuk melucuti senjatanya sebagai syarat rencana perdamaian G4za. Desakan tersebut bahkan ditargetkan rampung dalam waktu singkat sebagai bagian dari kesepakatan yang tengah dibahas (Antara News, April 2026).
Hamas menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa pelucutan senjata justru mengancam eksistensi serta perjuangan mereka dalam menghadapi penjajahan Isra*l. H4mas menilai bahwa senjata merupakan alat pertahanan rakyat G4za dari agresi yang terus berlangsung hingga saat ini. (Inilah.com, April 2026)
Tidak hanya itu, H4mas juga mendesak dunia internasional untuk bertindak atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Isra*l. Meski kesepakatan gencatan senjata telah disepakati, serangan demi serangan tetap terjadi dan menimbulkan korban sipil. (Metro TV News, April 2026)
Serangan rudal Isra*l di dekat sekolah di G4za dilaporkan menewaskan sedikitnya 10 orang warga sipil. Serangan ini menjadi bukti bahwa gencatan senjata tidak menghentikan agresi militer yang terjadi. (Detik.com, April 2026)
Fakta-fakta tersebut menggambarkan kenyataan pahit yang dialami rakyat G4za. Di satu sisi, mereka didesak untuk melucuti senjata. Di sisi lain, ancaman dan serangan masih terus berlangsung. Situasi ini membuat wacana demiliterisasi terasa tidak seimbang, bahkan cenderung melemahkan pihak yang selama ini berusaha mempertahankan diri.
Desakan pelucutan senjata terhadap H4mas juga memperlihatkan bahwa mediator internasional tidak sepenuhnya bersikap netral. Negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, selama ini dikenal sebagai pendukung utama Isra*l. Dalam konteks ini, wacana demiliterisasi tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik global yang condong pada kekuatan Barat dan Zion*s.
Jika pelucutan senjata benar-benar dilakukan, maka kelompok perlawanan akan kehilangan kemampuan mempertahankan diri. Pada akhirnya, rakyat G4za yang telah lama hidup di bawah tekanan justru semakin rentan. Mereka akan menghadapi agresi tanpa perlindungan, sementara dunia hanya menyaksikan dari kejauhan.
Lebih dari itu, pelucutan senjata juga merupakan bagian dari serangan pemikiran. Dunia diarahkan untuk melihat perlawanan sebagai ancaman bagi perdamaian, sementara penyerahan senjata dianggap sebagai solusi. Padahal, fakta menunjukkan bahwa agresi tetap berlangsung meski gencatan senjata telah disepakati. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukanlah perlawanan, tetapi penjajahan yang belum berakhir.
Wajib Melawan Penjajahan
Dalam perspektif Islam, penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar konflik politik, tetapi persoalan kemanusiaan yang harus diselesaikan. Islam memandang P4lestina sebagai wilayah kaum muslim yang wajib dibebaskan dari penjajahan. Oleh karena itu, selama penindasan masih berlangsung, perlawanan menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.
Allah Swt. berfirman: "Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya bagi Allah semata." (QS. Al-Baqarah: 193)
Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman dan penindasan harus dihentikan hingga tidak ada lagi penderitaan. Apa yang terjadi di G4za hari ini menunjukkan bahwa kezaliman masih berlangsung, dan rakyat G4za masih membutuhkan perlindungan.
Allah Swt. juga berfirman:
"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…" (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini menggambarkan kewajiban membela kaum tertindas. Rakyat G4za, anak-anak yang kehilangan orang tua, ibu yang kehilangan anak, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal merupakan potret nyata dari mereka yang membutuhkan pembelaan.
Wajib Menegakkan Institusi Pemersatu Umat
Dalam konteks ini, solusi komprehensif yang ditawarkan adalah tegaknya sistem Khil4fah. Khil4fah dipandang mampu menggerakkan kekuatan militer dari seluruh negeri muslim untuk melindungi rakyat G4za dan mengakhiri penjajahan di P4lestina. Dengan persatuan kekuatan kaum muslim, rakyat G4za tidak lagi menghadapi penderitaan sendirian.
Khalifah sebagai pemimpin umat berperan sebagai raa'in dan junnah, yakni pengurus dan pelindung rakyat. Negara tidak akan membiarkan kaum muslim berada dalam penindasan tanpa perlindungan. Dengan demikian, keselamatan rakyat menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, kesadaran umat juga menjadi faktor penting. Dakwah ideologis diperlukan agar umat memahami bahwa penderitaan G4za bukan persoalan yang jauh, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama. Kesadaran ini diharapkan mampu membangun kepedulian dan persatuan umat dalam memperjuangkan pembebasan P4lestina.
Wacana demiliterisasi G4za menunjukkan bahwa konflik ini bukan sekadar konflik wilayah, tetapi juga pertarungan kepentingan global. Selama penjajahan masih berlangsung, perdamaian sejati sulit diwujudkan. Rakyat G4za tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga solusi nyata yang mampu menghentikan penderitaan mereka.
Pada akhirnya, perjuangan rakyat G4za adalah perjuangan kemanusiaan. Di balik angka korban, ada wajah-wajah manusia yang kehilangan rumah, keluarga, dan harapan. Tanpa solusi yang menyentuh akar masalah, tragedi kemanusiaan ini akan terus berulang. Dunia pun dihadapkan pada pilihan: membiarkan penindasan terus terjadi, atau berdiri bersama mereka yang tertindas. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]











