Pendirian BOP atas Nama Perdamaian P4lestina
Opini
Rekonstruksi G4za tanpa adanya kedaulatan P4lestina
hanya akan membuat G4za menjadi penjara bagi masyarakatnya
____________________
Penulis Aksarana Citra
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Board of Peace sebuah narasi perdamaian untuk masyarakat P4lestina yang digencarkan oleh Presiden Trump. Sejarah masyarakat P4lestina menunjukkan inisiatif perdamaian kerap bukan solusi, tetapi alat untuk tambah menghancurkan P4lestina. BOP bukan sekadar pisau bermata dua, tetapi pisau yang kedua sisinya tajam dan sama-sama melukai rakyat P4lestina.
Di saat yang sama dewan ini dibentuk, tetapi penindasan dan pengeboman terhadap rakyat P4lestina masih digencarkan. Apakah ini perdamaian atau hanya alat legitimasi penindasan terhadap muslim P4lestina?
Presiden Prabowo Subianto mengumunkan bahwa Indonesia telah bergabung dalam Board Of Peace. BOP ini merupakan organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Trump dengan tujuan mengawasi rencana perdamaian 20 poin untuk G4za. Fokus awalnya untuk menyelesaikan konflik mendorong perdamaian dan stabilitas global dan rencana pembangunan "New G4za."
Syarat masuk menjadi anggota BOP adalah selain menerima undangan dari Donald Trump terdapat juga mekanisme iuran bagi para anggota BOP. Negara yang diundang dapat bergabung secara gratis selama tiga tahun. Di sisi lain, iuran yang harus dibayar setiap negara sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp17 triliun dan harus secara tunai dibayarkan pada tahun pertama. Namun, Jubir Kemenlu Vahd Nabyl menyebut bahwa keanggotaan dalam BOP tidak mewajibkan untuk membayar iuran dan mengenai rincian teknis termasuk nominal kontribusi tersebut masih diperlukan pembahasan lebih lanjut ujarnya.
Alasan pemerintah masuk keanggotaan BOP menurut Vahd adalah wujud komitmen konsisten Indonesia demi perdamaian P4lestina berbasis pada solusi dua negara. Selain itu, Indonesia berharap bisa membangun citra keterlibatan dalam menyelesaikan konflik P4lestina dan menguatkan posisi serta diplomatik Indonesia.
Arah BOP dikendalikan oleh Trump dengan kuasa hak veto. Segala keputusan dewan ini ditentukan suara mayoritas anggota, tetapi keputusan bisa diveto oleh ketua yakni Trump. Di balik itu, banyak pihak yang mempertanyakan dicetuskannya BOP yang asalnya untuk menyelesaikan konflik di Gaza, tetapi anehnya tidak melibatkan Palestina.
Menurut mantan Menlu Dito Patti Jalal mengatakan Indonesia sebaiknya waswas berperan dalam BOP ini karena kalau tidak hati-hati kehadiran Indonesia dalam Board of Peace akan dimanfaatkan Israel untuk merayu dan memperdayai Indonesia ujarnya. Sudah kita ketahui kehadiran Netanyahu Perdana Menteri Isra*l yang berpengaruh terhadap keputusan Trump. (abc.net.au, 30-01-2026)
Banyak pakar ahli yang berpendapat bahwa dewan ini dibentuk untuk kepentingan Trump bukan kepentingan P4lestina karena Trump memegang hak veto di sana. Sebelumnya Trump pun ingin mengubah G4za menjadi Riviera Timur Tengah dan memicu kemarahan dunia. BOP dibentuk untuk perdamaian Palestina, tetapi yang anehnya P4lestina tidak diikutsertakan.
Selain itu, iuran yang harus dibayarkan Indonesia untuk keanggotaan kemungkinan akan menggunakan APBN ujar Purbaya. Padahal telah kita ketahui APBN untuk membiayai IKN, kereta cepat (KCIC), dan MBG. Mana buat rakyat?
Dengan keikutsertaan Indonesia di BOP, apakah benar-benar untuk perdamaian dan kemanusiaan P4lestina? atau BOP digunakan menjadi alat politik saja bukan benar-benar peduli pada kemanusiaan dan perdamaian G4za?
Di sisi lain, Indonesia masih banyak wacana yang harus dikerjakan. Misal membangun kembali Sumatra pasca diterjang banjir dan berbagai persoalan di negara. Kalau benar-benar peduli pada kemanusiaan, mengapa pemerintah tidak menangani isu kemanusiaan pengungsi Rohingya dan Uighur.
Realitasnya BOP dibentuk untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS di bawah kepemimpinan Trump. BOP berada di bawah pengaruh AS sehingga arah kebijakan selaras dengan kepentingan AS dan para sekutunya, bukan pada keadilan P4lestina.
Dengan kata lain, Trump ingin menguasai G4za, mengusir para penduduknya dan membangun G4za baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara dan menara apartemen dengan sebutan "New G4za". Pengalaman rakyat P4lestina menunjukkan bahwa inisiatif damai justru menjadi alat legitimasi genosida.
BOP yang digadang-gadang untuk perdamaian menyelesaikan konflik nyatanya dipakai untuk menghancurkan P4lestina. Ironisnya dukungan negara-negara muslim lainnya hanya menjadi pelengkap legitimasi penindasan terhadap P4lestina. BOP merupakan alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump untuk G4za.
Namun, secara keseluruhan dari 20 poin itu lebih menguntungkan pihak penjajah daripada rakyat P4lestina karena banyak di antara poin-poin itu manfaat yang akan dirasakan rakyat P4lestina terbatas dan bersyarat, tetapi risiko yang akan ditanggung Pa4lestina besar.
Misal gencatan senjata dan masuknya bantuan kemanusiaan, bukan solusi jangka panjang hanya sementara. Rekonstruksi G4za tanpa adanya kedaulatan P4lestina, hanya akan membuat G4za menjadi penjara bagi masyarakatnya. Pembebasan sebagian tahanan di mana bersyarat dan sangat selektif.
Di poin itu juga masalah intinya adalah karena tidak ada pengakuan kedaulatan P4lestina. P4lestina diberi hidup, tetapi tidak diberi haknya. G4za diwajibkan tanpa kekuatan pertahanan dan akan berada dalam posisi lemah dan bisa kapan saja dihancurkan.
Jadi, 20 poin ini tidak bisa menyelesaikan permasalahan P4lestina. P4lestina bagai berada di dua sisi yang merugikan karena apabila berdamai, tetapi tanpa hak, aman tanpa merdeka. Bagaimana bisa negara tanpa pertahanan diberi kehidupan, tetapi segala haknya dirampas?
P4lestina tidak butuh Amerika Serikat, sekutu, maupun Board of Peace yang P4lestina butuhkan adalah kebebasan secara mutlak dari penjajahan Zion*s. Zion*s yang selama ini menjajah menggenosida penduduk P4lestina harus pergi dari tanah P4lestina. Perdamaian yang ditawarkan BOP hanyalah perdamaian semu.
Nyatanya selang satu hari setelah ditandatanganinya Board of Peace, Isra*l justru merespons dengan tindakan yang membuat malu para anggota BOP. Zion*s memang laknat dan ia tidak segan-segan menampakkan wajah aslinya. Inilah kezaliman yang merupakan sebuah bukti bahwasanya perdamaian tidak akan hilang walaupun dengan BOP.
Hanya dengan jihad dan Khil4fah yang merupakan satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan P4lestina dari cengkeraman Zion*s. Perdamaian yang hakiki akan terwujud dan P4lestina menjadi negara yang berdaulat dan terlindungi dari segala macam ancaman penjajahan genosida dari Zion*s.
Karena masalah P4lestina bukan sekadar konflik politik, tetapi tanah Islam yang dirampas, terjadinya penjajahan atas kaum muslim. Maka hukumnya mengusir Zion*s dari tanah muslim merupakan kewajiban bukan dengan negosiasi perdamaian. Rakyat P4lestina butuh khalifah yang di mana posisinya sebagai junnah atau perisai umat, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang berbunyi:
"Sesungguhnya Imam (khalifah) itu adalah junnah (perisai), dibelakangnya kaum muslim berperang dan dengannya mereka berlindung." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai di sini bukan seorang individu atau pun masyarakat, bukan pula ormas, tetapi negara dengan kepemimpinan Islam. Karena tanpanya umat Islam mudah tercerai berai dan mudah dijajah oleh asing. Hanya dengan Khil4fah pembebasan P4lestina terwujud karena kalau kita lihat bahwasanya P4lestina itu dijajah oleh sebuah negara.
Di mana sudah terorganisir, mendapat dukungan dari negara-negara besar, dan mempunyai kekuatan politik ekonomi dan militer, maka akan sulit dilawan dengan keadaan P4lestina seperti saat ini. Cara efektif untuk melawannya hanya dengan sebuah negara juga. Karena dengan Khil4fah, umat dapat bersatu di bawah kepemimpinan sehingga P4lestina menjadi urusan umat bukan beban tersendiri.
Oleh sebab itu, negara-negara Islam tidak boleh bersekutu dengan para kafir harbi fi'lan. Di mana mereka dengan sombongnya memerangi muslim P4lestina. Negara-negara muslim seharusnya bersegera mengegakkan Khil4fah. Di mana Khil4fah berperan sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan harus segera merealisasikannya.
Dengan Khil4fah, perdamaian dan kesejahteraan kaum muslim P4lestina tidaklah semu, tetapi nyata. Hanya dengan Khil4fah persatuan umat akan terlaksana, menjadi pelindung nyata umat, dan memiliki legitimasi untuk membebaskan tanah muslim. Tanpa Khil4fah P4lestina terus berdarah. Wallahualam bissawab.











