Penipuan Mewabah di Tengah Musibah
OpiniPraktik penipuan menjadi hal yang biasa
dalam kapitalisme
_______________________
Penulis Yani Ummu Qutuz
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Sudah jatuh tertimpa tangga, sepertinya itu ungkapan yang tepat bagi rakyat Florida, Amerika Serikat. Pasalnya, masih terasa derita akibat Badai Milton yang melanda wilayah Florida pada (10-10-2024), warga Florida kini menghadapi bencana baru berupa penipuan berkedok bantuan darurat bencana.
Dikutip dari (cnn.indonesia.com, 13-10-2024) Chief Finansial Officer Florida Jimmy Patronis mengatakan, bahwa warga Florida tengah diterjang penipuan baik dari asuransi, dana bantuan bencana, maupun kontraktor perbaikan bangunan.
Menurut Patronis orang yang rentan terkena tipu adalah para lansia usia 60 tahun ke atas. Para penipu biasa mendatangi lansia yang rumahnya rusak dengan meyakinkan mereka untuk menandatangani klaim asuransi. Kemudian para penipu itu menagih uang tersebut kepada perusahaan asuransi dan menyedot uang langsung dari korban.
Menurut juru bicara Better Business Bereau Melanie McGovern mengatakan, bahwa para penipu akan berdatangan dengan berbagai macam metode demi meraup cuan sebanyak-banyaknya.
Modus penipuan bermacam-macam, ada yang berpura-pura menjadi pejabat Badan Managemen Darurat Federal (Federal Emergency Management Agency/FEMA) ataupun kontraktor yang ingin membantu memperbaiki rumah.
FEMA adalah salah satu pihak yang sering dijadikan kedok para penipu. FEMA sendiri menegaskan bahwa pihaknya hanya akan menghubungi korban yang telah terdaftar untuk mendapatkan bantuan.
FEMA juga mengingatkan bahwa para penipu juga menyasar para penderma. Banyak badan amal fiktif bermunculan untuk mengelabui penderma. McGovern pun mengungkapkan jenis penipuan yang lain, yaitu membuat cerita-cerita palsu yang bertujuan untuk menarik simpati seseorang. Para penipu ini biasa mewabah di platform Crowd Funding untuk menyasar orang-orang yang lemah.
Penipuan Subur dalam Kapitalisme
Praktik penipuan menjadi hal yang biasa dalam kapitalisme. Ketidakpastian ekonomi saat ini membuat masyarakat tidak sejahtera.
Mencari pekerjaan sulit, PHK di mana-mana, inilah yang menghantarkan masyarakat pada kondisi kemiskinan struktural. Orang akan melakukan apa pun termasuk menipu agar bisa bertahan hidup.
Sementara itu, sekularisme telah menjadikan masyarakat jauh dari agama. Agama hanya ada dalam ibadah mahdah, dalam urusan kehidupan yang lain, agama jangan dibawa-bawa.
Akibatnya halal haram sudah tidak dihiraukan. Bahkan sampai ada ungkapan “Jangankan mencari yang halal, mencari yang haram pun sulit." Jadilah mereka memilih menipu untuk bisa mempertahankan hidup.
Di sisi lain, negara sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus rakyat, ternyata abai dalam menjalankan perannya. Relasi antara penguasa dan rakyat hanya sebatas untung rugi.
Keberadaan mereka hanya untuk kepentingan korporasi. Lapangan pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas negara untuk menyediakannya, malah diserahkan pada swasta. Ketika lapangan pekerjaan sempit, penipuan menjadi alternatif.
Tidak adanya lapangan pekerjaan yang memadai mengakibatkan orang memilih menipu untuk mendapatkan uang. Sementara itu, hukuman bagi para penipu dan pendusta dalam sistem sekuler kapitalis hanya berupa kurungan fisik dan denda yang tak mampu memberikan efek jera bagi pelaku.
Daulah Islam Menutup Celah Penipuan
Islam memandang, kebohongan dan penipuan merupakan perbuatan tercela, merugikan, dan merusak, baik bagi orang lain juga diri sendiri. Mereka yang terbiasa menipu akan kehilangan kepercayaan orang lain dan merusak hubungan sosial.
Bahkan Rasulullah saw. tidak mengakui pengikutnya yang berbuat curang dan menipu. Beliau bersabda, “Barang siapa yang menipu kami bukanlah dia dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Orang-orang yang berbuat curang akan menerima azab yang sangat pedih kelak di alam kubur, dengan merobek-robek mulutnya sendiri hingga hari kiamat.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Aku melihat dalam mimpi dua malaikat, keduanya berkata, “Orang yang engkau lihat mulutnya dikoyak hingga telinga, adalah seorang pembohong. Ia berbohong hingga kebohongannya tersebut dibebankan kepadanya hingga mencapai ufuk, maka dibuatlah ia diberi beban seperti itu hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Negara Islam akan memberlakukan sanksi bagi siapa saja yang melanggar syariat sesuai undang-undang yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunah. Sanksi akan diberlakukan kepada seluruh warga negara baik muslim maupun nonmuslim. Sanksi yang diterapkan akan memberikan efek jera bagi pelaku.
Fungsi sanksi dalam Islam adalah sebagai jawabir dan zawajir. Jawabir artinya sanksi yang diberikan akan menjadi penebus dosa di akhirat bagi pelaku kriminal karena sudah diberikan hukuman sesuai syariat di dunia.
Fungsi zawajir yaitu memberikan efek jera baik bagi pelaku maupun orang lain, sehingga membuat orang berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan kriminal. Dengan sanksi yang tegas, kejahatan tidak akan meluas dan ketenangan hidup akan didapatkan.
Hanya Daulah Islam yang bisa menerapkan aturan Islam secara sempurna dan memberikan rasa keadilan bagi semua.
Kekhilafahan saat ini belum diterapkan, maka menjadi kewajiban bagi kita untuk memperjuangkannya agar segera tegak kembali.
Yuk ngaji, supaya kita tahu cara memperjuangkan Islam seperti yang dicontohkan nabi. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]