Alt Title

Mewujudkan Perisai Umat di Bulan Ramadan

Mewujudkan Perisai Umat di Bulan Ramadan

 


Selain puasa Ramadan sebagai perisai dari berbagai kemaksiatan

Islam juga memiliki perisai (junnah) sebagai pelindung umat yakni imam

_________________________


Penulis Ummi Qyu

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Anggota Komunitas Rindu Surga


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tak terasa, Ramadan sudah memasuki sepuluh hari terakhir. Bulan yang memiliki julukan Sayyid Asy-Syuhur (pimpinan seluruh bulan) pun akan meninggalkan kita.


Keutamaan bulan ini juga berlimpah tiada tandingannya, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Selain itu, Ramadan juga disebut bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah Swt.. Di dalamnya terdapat malam yang istimewa, satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, yaitu malam lailatul qadar.


Di antara keutamaan bulan puasa lainnya adalah sebagai perisai bagi seorang mukmin, yakni pelindung dirinya dari segala kemaksiatan sehingga akan membentuk pribadi yang lebih bertakwa dan menaati segala perintah Allah Swt. tanpa memilah dan memilih serta meninggalkan segala larangan-Nya. Selain itu, puasa juga sebagai perisai yang akan melindungi dirinya dari siksa api neraka. 


Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis qudsi, yang artinya:


"Tuhan kita, Allah 'Azza wa Jalla, telah berfirman, "Puasa adalah perisai. Dengan perisai itu seorang hamba membentengi dirinya dari siksa api neraka." (HR. Ahmad)


Makna hadis di atas adalah dengan menjalankan puasa atas dasar keimanannya kepada Allah Swt., maka seorang muslim sejatinya akan terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt., seperti gibah, berbicara kasar dan kotor, meninggalkan permusuhan antarsesama, meninggalkan kebohongan dan penipuan, meninggalkan riba, zina, tindak korupsi, suap-menyuap, pemerasan, dan lain sebagainya. Ketakwaan ini akan terus terbawa hingga bulan-bulan di luar Ramadan.


Muhasabah Diri dan Negeri 


Sejatinya, puasa yang dilakukan setiap tahunnya dapat mengubah manusia menjadi lebih bertakwa. Namun sayangnya, hal ini belum terjadi di negeri ini. Hikmah puasa Ramadan seolah berlalu begitu saja, kemaksiatan masih sulit dikendalikan.


Berkaitan dengan hal ini, survei Pew Research Center yang diterbitkan pada tahun 2024, menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling religius di antara 102 negara lainnya. Namun kontradiksi dengan kenyataannya. Faktanya umat muslim di Indonesia religius tetapi jauh dari ketaatan beragama.

Salah satu contoh, para pejabat kita yang mayoritas  muslim, tetapi tidak amanah dengan jabatannya karena keserakahan mereka. Seperti kasus para pejabat di Pertamina yang beramai-ramai melakukan korupsi dan merugikan negara hingga mencapai Rp1000 triliun mulai dari tahun 2018-2023. (Kompas.com, 04-03-2025)


Belum lagi total kasus korupsi di bidang pertambangan seperti timah, infrastruktur, dan berbagai bidang lainnya. Pantaslah jika Indonesia menempati di posisi ke 115 dari 180 negara dalam pemberantasan kejahatan korupsi, sesuai dengan hasil survei Transparansi Internasional tentang indeks persepsi korupsi  pada tahun 2023. (Sustain.Id, 5-02-2024)


Selain kasus korupsi besar-besaran itu, kemaksiatan lain terus marak meski di bulan Ramadan. Menurut Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPAT) mencatat nilai transaksi judi online mencapai Rp600 triliun pada kuartal l tahun 2024. Kasus pinjaman online berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berasal dari perorangan maupun perusahaan mencapai Rp64,5 triliun. (cnbcindonesia.com, 20-06-2024) 


Semua itu terjadi tidak lain karena adanya pengerdilan ajaran Islam yang hanya digunakan dalam ranah ibadah ritual semata, sementara urusan kehidupan lainnya tidak menggunakan aturan agama. Islam tidak boleh mengatur yang lain seperti di bidang ekonomi, sosial, pidana, apalagi politik dan pemerintahan. Islam hanya dipakai ketika dianggap memberikan keuntungan pada penguasa seperti umrah, haji, zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, Islam juga kerap dijadikan ajang pencitraan para politisi dan pejabat, khususnya pada saat pemilu. 


Sebaliknya, orang-orang yang berusaha mewujudkan ketaatan secara totalitas, berusaha memperjuangkan syariat Islam secara kafah dilabeli radikal. Mereka dimusuhi dan diperlakukan semena-mena. 


Oleh karena itu, meski ibadah puasa Ramadan dilakukan setiap tahun, nampaknya tidak membawa pengaruh yang berarti di negeri ini. Tidak kunjung membawa rakyat dan bangsa ini lebih bertakwa. Bahkan dapat dikatakan gagal menjadi perisai yang dapat melindungi dirinya dan masyarakatnya dari berbagai kemaksiatan.


Imam Adalah Perisai


Selain puasa Ramadan sebagai perisai dari berbagai kemaksiatan, Islam juga memiliki perisai (junnah) sebagai pelindung umat yakni imam (khalifah). Seorang imam akan melindungi umat dari musuh dan menjaga umat dari kejahatan juga akan memelihara kemuliaan Islam, kehormatan, harta bahkan jiwa dengan cara menerapkan ajaran Islam secara kafah


Sayangnya perisai itu saat ini hilang sehingga umat Islam kehilangan pelindungnya. Akibatnya mereka teraniaya, tercabik-cabik, bahkan saling menyerang satu sama lain. Selain itu, mereka kehilangan rasa aman, tidak ada yang melindungi kehormatan, harta, bahkan jiwa. Kita dapat melihat banyak terjadi kasus perampasan harta seperti lahan warga oleh korporasi, penguasaan sumber daya alam oleh swasta asing dan aseng, serta berbagai kasus pembunuhan yang menghilangkan nyawa tidak berdosa. 


Maka dari itu, sekarang sudah saatnya kita memperbaiki kualitas puasa kita, wujud dari kesungguhan untuk mencapai derajat ketakwaan yang hakiki dan menyeluruh di dalam diri kita. Juga menjadikan puasa kali ini sebagai momentum perubahan diri dan bangsa, serta semangat memperjuangkan perisai umat yakni seorang imam (khalifah) yang akan benar-benar menjaga dan melindungi rakyatnya. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]