Alt Title

Ramadan Tidak Pernah Berakhir

Ramadan Tidak Pernah Berakhir

 



Setelah sebulan penuh kita dilatih sabar untuk memerangi hawa nafsu

idealnya orang yang beriman mampu mengendalikan hawa nafsu 


___________________

 


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA -Tujuan saum agar memiliki sifat takwa sesuai firman Allah Taala surah Al-Baqarah: 183 ( lihat tafsir). Untuk meraih takwa bukan hal yang mudah karena berkaitan dengan hati yang sering didominasi oleh hawa nafsu. Bukan wahyu sehingga banyak orang yang melaksanakan saum, tetapi sebatas bisa menahan lapar dan haus saja. Artinya, belum mencapai derajat takwa.


Ketika berbicara tujuan saum untuk mencapai derajat takwa ternyata saum ramadan harus berbekal iman hingga Allah mewajibkan saum Ramadan dan orang yang diseru di antaranya orang yang beriman. Dalam diri orang yang beriman pasti ada rasa takut saat tidak taat pada syariat Allah yakni saum Ramadan.


Jika ditinggalkan pasti dosa minimal rasa takut hadir kemudian orang beriman memiliki rasa cinta kepada Allah Taala sehingga ketika diperintahkan untuk saum ia akan melakukannya. Saum harus berbekal qanaah rasa cukup atas rezeki yang Allah berikan dan untuk bekal amal saat meninggal ada pahala terbaik dari Allah Taala berupa surga. 


Adapun hasil dari saum setelah dididik sebulan penuh, harus membekas yakni memiliki jiwa jihad untuk sebelas bulan berikutnya. Jihad tersebut adalah melawan hawa nafsu karena sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan pada keburukan dan kemaksiatan.


Sesuai firman Allah Swt.: "Innanafs amaratussu."(QS. Yusuf)


Waspadalah terhadap hawa nafsu karena sering ada bisikan dari jin dan manusia sesuai QS. An-Nas. Apakah saum kita sudah berhasil? Koreksi diri ketika masih ada tiga sifat munafik (bicara bohong, janji ingkar, diamanahi khianat) itu tertanda bahwa saum kita belum berhasil. Iman kita belum benar-benar terwujud dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.


Ketika tidak ada rasa sesal saat ibadah tertinggal, misal telat salat beberapa menit atau beberapa jam jika tidak ada rasa sesal dan tidak merasa kehilangan akhirat, hati-hati tertanda iman kita harus diwaspadai.


Betulkah iman kita sudah menghunjam jiwa? Berbeda dengan kehilangan berbentuk dunia, misal ketika kehilangan harta atau orang tercinta (suami atau istri) pasti nangis. Namun, saat kehilangan akhirat biasa saja, hati-hati jangan-jangan iman itu pura-pura atau munafik. 


Karena itu musuh terbesar kita adalah hawa nafsu, sejatinya perlu diwaspadai. Waspadalah hawa nafsu akan hadir sampai kita mati. "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar benarnya itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (QS. 50: 19)


Untuk itu harus disadari bahwa hawa nafsu selalu mengintai sampai mati dan hawa nafsu selalu dibisikkan tiada henti oleh jin dan manusia sesuai QS. An-Nas agar kita mampu memerangi hawa nafsu, maka bentengi dengan iman, selalu ingat mati.


Setelah sebulan penuh kita dilatih sabar untuk memerangi hawa nafsu idealnya orang yang beriman mampu mengendalikan hawa nafsu pada sebelas bulan berikutnya agar merasa Ramadan tidak pernah berakhir. Ingat, iman adalah modal terbesar untuk melawan hawa nafsu. 


Esensi iman harus dipelihara dengan ilmu yang bermanfaat dan salat yang ditegakkan dengan benar sesuai contoh Rasulullah saw. tumaninah juga khusyuk. Dari iman yang kuat, salat yang ditegakkan secara tumaninah dan khusyuk akan lahir amalan saleh lainnya yang menjadikan hawa nafsu berubah menjadi jiwa yang tenang. 


Sesuai firman Allah Swt.: "Jiwa yang tenang, yang diseru masuk surga-Nya" (QS. Al Fajr: 27-30)


Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku. Wallahualam bissawab.[Dara/MKC]


Ummu Bagja Mekalhaq